Wednesday, 25 December 2013

Anugerah Terindah Yang Pernah Ku Miliki




Untuk segala tawa, canda, air mata, semangat, kekecewaan, keinginan, kesedihan, kebahagiaan dan hal-hal yang terjadi selama ini.

"Hidup tak seperti di negeri dongeng" itu kata seseorang dalam film.

Tapi aku setuju akan hal itu, namun di lain hal aku juga yakin bahwa akan selalu ada akhir yang indah dalam setiap hal yang terjadi dalam hidup. Karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik dan pasti yang terbaik untuk hambanya. Kalau hanya baik menurutmu belum tentu baik menurutNYA. Maka aku lebih ikhlas jika harus merasakan hal yang tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan tetapi aku yakin akan ada hal yang luar biasa baiknya di depan sana yang telah Tuhan persiapkan untukku.

Untuk semua yang ada di kehidupanku, untuk orang-orang yang selalu disekelilingku, untuk orang yang tak mau pergi dari pikiranku, untuk persoalan yang mendewasakanku, untuk keluhan yang terkadang mengingatkanku, untuk tetes air mata sebagai pengganti yang lebih baik, untuk apapun yang datang kemudian pergi, untuk sebuah nafas yang telah menghidupkan.

Kalian adalah..

Anugerah Terindah yang Pernah Ku Miliki...

Monday, 21 October 2013

Dimulainya Hari Ini

Jika telepon genggam ku bisa bertindak sendiri mungkin ia sudah lancang mengirimkan semua pesan yang tersimpan di draft. Tapi disini manusia masih mempunyai peran untuk mengendalikan apa yang ingin ia kirimkan walaupun berbeda dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Sudah hampir habis hari ini namun tak juga namanya tertera di kotak masuk ponselku. Biarlah mungkin memang ini yang menjadi pilihannya hanya saja aku tak habis pikir kenapa sikapnya bisa seperti itu.

Mataku mulai meminta untuk dipejamkan dan ingin menikmati keheningan malam sampai tiba esok matahari masuk dari jendela kamarku yang terbuka. Aku tinggalkan semua yang nampaknya berjalan tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Entahlah apa yang akan terjadi esok biarkan semuanya menjadi rahasia yang tak pernah ku ketahui. Abin menjadi suatu rahasia yang sampai saat ini tak ku ketahui mengapa ia menjadi seperti itu.
***

Almost, almost is never enough
So close to being in love
If i would have known that you wanted me
The way i wanted you
Then maybe we wouldn't be two worlds apart
But right here in each other arms

"Haloo kenapa ga?"
"Ven gue di depan"
"Hah?" aku yang sedang memakai dasi segera berlari menuju jendela kamar yang langsung tertuju ke arah pintu gerbang rumah.
"Gue tunggu di bawah" kemudian panggilan teleponnya terputus.
Aku keluar dari kamar untuk menemui Angga. 
"Raveeeeen hati-hati kalau turun dari tangga jangan buru-buru" ucap ayah yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Bentar yah ada temen aku di bawah" jawabku sambil menuruni tangga.

Sesampainya di pintu depan tenyata pintu masih terkunci "Buuuu kuncinya manaaa?".
"Apa siih raven dari tadi grasak-grusuk terus teriak-teriak.." ibu menghampiri dan memberikan kunci.

Aku menuju pagar dan membukakan gembok yang masih terkunci untuk Angga "Kok lo gak bilang gue dulu sih kalau mau jemput ke rumah".
"Emang kenapa? kan kalau gue mau sekolah pasti ngelewatin komplek rumah lo dulu jadi sekalian".
"Iya tapi kepagian mas, yaudah motor lo masukin terus sarapan dulu deh yuk di dalem".
"Ehh gak apa-apa nih ikut sarapan?".
"Iya udah buruan masukin.. gue ke dalem dulu yah mau siap-siap lo langsung masuk aja pokoknya" ku tinggalkan Angga yang masih harus memasukkan motornya ke dalam rumah".

"Assalammualaikum".
"Walaikumsalam... ehh Angga sini masuk".
"Iya tante".

"Ven udah siap belum?" teriak ibu dari bawah.
"Iya buuu bentar lagi" saut Raven.

Suara langkah kaki menuruni anak tangga terdengar dan mulai menunjukkan siapa yang turun dari atas. Seorang perempuan berpakaian seragam dengan rambut sebelah kiri disematkan ke telinga dan rambut sebelah kananya dibiarkan terurai. Indahnya pagi mungkin kalah indah dari cantiknya Raven pagi ini.

"Ga siniii kita sarapan" Raven memanggil Angga yang ada di ruang tengah untuk pindah ke ruang makan.
"Ehh ternyata masih pagi udah ada tamu, ayam juga kalah cepet nih kayaknya" ujar ayah.
"Apaan si yah emangnya ayam pagi-pagi bertamu? Oh iya kenalin ini Angga temen sekelas Raven".
"Ohh Angga.. Nak Angga ini tau betul ya caranya biar rezeki gak di patok sama orang jadi datengnya pagi-pagi".
Ibu memotong pembicaraan sambil menaruh piring di meja makan "Sudah..sudaah ayah jangan di dengerin dia suka gitu.. jayus orangnya"
"Bu jayus itu bukannya nama pejabat yang tersandung kasus korupsi itu?".
"Itu Gayus om" saut Angga.
"Loh.. kamu bisa ngomong juga ternyata. saya kira gak bisa abis dari tadi cuma senyum-senyum aja" kami semua tertawa.
"Angga malu-malu yah biasa baru ketemu pertama kali sama ayah".

Sarapan pagi kali ini cukup menyenangkan. Ayah seperti bertemu dengan anak laki-lakinya. Sudah hampir satu tahun kami sarapan hanya bertiga karena kakak tertua ku mendapatkan tugas bekerja di daerah. Ayah sangat suka bercanda dengan Angga yang sesekali mengajaknya bermain plesetan nama-nama tertentu.

"Hati-hati ya nak Angga bawa motornya jangan ngebut. Inget kamu bawa putri kesayangan om".
"Iya om beres".

Kami bersalaman dengan Ayah dan ibu "Bu..yah kita pergi dulu yah".
"Iya hati-hati" ucap ibu.

"Ga makasih ya udah bikin bokap kayaknya kangennya terobati sama anak cowonya gara-gara ada lo di meja makan kita pagi ini".
"Iya sama-sama besok-besok gue numpang sarapannya di rumah lo aja ya berarti".
"Yee numpang idup sama gue dong lo..".
Angga tertawa terbahak "Udaaah buru pegangan ntar kita malah kesiangan lagi".

***

Beberapa siswa terlihat mulai terus melirik jam dinding ataupun jam tangan yang sedang dipakainya ketika bel pertanda istirahat akan segera berbunyi. Konsentrasi untuk belajar seakan sudah terbagi dua dengan segarnya es jeruk dan semangkok bakso di kantin. Aku masih terus tersenyum melihat Raven hari ini, alangkah semesta menciptakan pagi yang begitu indah. Secangkir hangatnya kebersamaan dengan keluarga Raven dan gurihnya ucapan terima kasih dari Raven pagi tadi. 

"Ga traktir gue bakso dong di kantin" tiba-tiba saja celetukan Rina mengalihkan pikiranku tentang Raven untuk sesaat.
"Yee lo pikir gue bapak lo".
"Ihh jahat banget giliran Raven di traktir..".
"Yailaaah Rina bandingin sama Raven ya jelaslah.. Raven minta Angga beliin bakso sama gerobak-gerobaknya juga di beliin" saut Odi.
"Yaudah ven lo minta Angga dong beliin bakso sama gerobaknya kan nanti gue bisa nebeng makan tuh".
"Rin..rin lo mah emang tetep aja maunya yang gratisan sama kaya gue" jawab Odi sambil mengambil sepatu diatas pintu yang disangkut oleh Irfan.

"Apaan si kalian ini.. yang adil tuh beli pake uang sendiri-sendiri buat jajan sendiri juga".
"Nah setuju deh sama Meylin.. yuk aahh kita ke kantin" Raven menggandeng Meylin menuju kantin.
"Ehh tungguin gue" Rina menyusul Raven dan Meylin.

"Sob lo gak ke kantin?".
"Enggak ahh kenyang nanti aja isirahat kedua".
"Yaudah gue ke kantin dulu lah sob.. laper".
"Eh di bentar deh, menurut lo Raven tau gak si kalau gue punya sesuatu yang khusus buat dia?".
"Khusus? tempat bimbel?".
"Yeee gerobak ketoprak itu kursus".
"Kursus banget si badannya si Meylin".
"Itu kurus broooh.. ettt.. wah lo ngeledekin Mey, gue aduin lo ntar".
"Yaelah sob serius amat pantes ga di pekain".
"Maksud lo?".
"Tau ahh.. kebanyakan nanya lo. Pelan-pelan mangkanya santai liat kanan-kiri jangan lupa".
"Sok tauuuu looo".
Odi kemudian berlalu meninggalkan ku dalam kelas dengan jempol terbalik dibelakang badannya "Buseet bener-bener tuh anak".

***

"Lo nungguin siapa ven?" tanya Angga.
"Gue nunggu di jemput ayah" jawabku terbata-bata.
"Gak bareng sama gue aja nih?".
"Enggak gak usah udah janji soalnya sekalian mau makan siang bareng gitu deh katanya ayah".
"Oh yaudah gue duluan ya ven".
Sementara itu tiba-tiba Odi menghadang motor Angga "Ga nebeng dong..".
"Ogaah balik sendiri lo..".
Tanpa banyak kata Odi langsung saja menaiki motor Angga "Yuk jalan".
Aku hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak itu dan akhirnya Angga pulang bersama Odi.

Sebenarnya ayah tak menjemputku dan juga tak ada janji makan siang hari ini. Bukan aku tidak jujur kepada Angga hanya saja tiba-tiba ketika ia bertanya tadi jawaban itu yang terlontar dari mulutku. Aku masih menunggu Abin hanya ingin meingatkan kalau saja ia lupa tentang ajakan ku kemarin. Namun nampaknya anak-anak kelasnya sudah hampir semua keluar dari gerbang sekolah namun aku masih juga tak melihat tanda kemunculan Abin. Selagi istirahat pun aku memang tak melihatnya tapi pikirku ia pasti sedang asik membaca komik di samping ruang perpustakaan atau hanya mengobrol di kelas.

Ku lihat Arumi ia teman sekelas Abin, aku akan coba bertanya padanya "Arumi mau tanya dong, Abin udah keluar kelas belum?".
"Abin? Dia kan gak masuk hari ini".
"Gak masuk? kenapa?".
"Gak ada keterangan ven, Indra juga gak dikabarin".
"Oh gitu.. yaudah makasih ya rum".

Bahkan untuk menghadapi hari ini saja ia tak ingin apalagi mengingat ajakan ku kemarin........

Tuesday, 8 October 2013

Permulaan

Bel istirahat jam kedua pun berbunyi semua siswa bersiap-siap menuju masjid untuk menjalankan shalat dzuhur berjamaah. Aku, Rina dan Meylin selalu bersamaan menuju masjid namun karena hari ini Meylin sedang datang bulan akhirnya aku hanya berdua saja dengan Rina. Sepanjang perjalanan menuju masjid kami membahas mengenai pelajaran fisika yang baru saja dibahas kelas tadi "Sumpah gue males banget ven masuk kelas lagi rasanya otak gue udah penuh asep nih". Pelajaran fisika memang masih akan berlanjut sehabis istirahat kedua ini selesai. Tiba-tiba saja "Rin lo duluan dong ke masjidnya gue mau ngomong sama Raven sebentar". Tanpa berkata banyak seperti sudah mengerti Rina langsung berjalan lebih cepat dan meninggalkanku bersama Angga.

"Ven pulang sekolah makan gulali yuk?".
"Traktir yaah?".
"Mau banget apa mau aja?" Angga mendekatkan matanya ke arah mataku. Kami pun tertawa sambil berjalan beriringan menuju masjid.

Seusai shalat dzuhur berjamaah aku dan Rina membeli jajanan dikantin sekolah. "Cari ini?" seorang laki-laki menghampiri dan memberikan sebuah permen lolipop dengan rasa anggur. "Abin? ya ampun lo kemana aja?" ku ambil lolipop itu dari tangannya. "Gue masih sekolah disini kok. Duluan ya ven" Abin pun pergi meninggalkan ku yang masih terkaget melihat dirinya yang lama tak ku jumpai di sekolah. "Rin Abin kenapa si? kok dia cuek banget sama gue? tanyaku pada Rina yang masih asik memilih jajanan apa yang akan dibeli untuk menemaninya ketika pelajaran fisika nanti. "Gak tauuuuuu tanya aja sama orangnya yuk ah ke kelas, lo udah bayar belum?". "Bentar-bentar" ku ambil uang dari dalam saku seragam sekolahku.

Sepanjang pelajaran fisika aku masih terus memikirkan sikap Abin yang tak seperti biasanya. Abin memang lelaki yang sangat terlihat cuek namun raut mukanya tadi menunjukkan kalau ada sesuatu yang mengusiknya. "Husssh ven jangan ngelamun lebih lama lagi atau lo bakal di suruh maju buat ngerjain soal di depan" Meylin menyenggol tangan kiri ku.

Setelah melewati waktu yang cukup panjang untuk sebuah pelajaran fisika tadi akhirnya waktu pulang pun tiba.
"Yuk jadi kan?" Angga menghampiri ku yang masih memasukkan buku-buku ke dalam tas.
"Iyaa jadi.. tunggu diparkiran ya ngga".
"Okee gue tunggu dibawah yaa" Angga pun pergi meninggalkan kelas.
"Lo mau kemana ven sama Angga?" tanya Meylin.
"Makan gulali".
"Terus Abin?" sahut Rina cepat.
"Abin? Apa hubungannya Abin sama gulali?" jawabku terheran.
"Ohh gak apa-apa si yaudah gihh yuk ke bawah cuma tinggal kita doang loh di kelas" ucap Rina sambil berjalan duluan ke luar kelas.

***
Hai

Ku dapati sebuah pesan singkat yang ternyata dari Abin. Entahlah aku sangat senang ketika membacanya sudah lama ia tak menghubungiku dan walaupun kami satu sekolah akhir-akhir ini aku jarang melihatnya.

Abin :)

Dengan cepat aku membalasnya lalu ku tinggalkan ponselku diatas kasur kemudian turun ke bawah untuk segera makan malam bersama ayah dan ibu.

Seusai makan malam kembali ku lihat ponsel yang ku tinggalkan dikamar tak ada satupun pesan yang masuk. Abin selalu seperti ini hanya sekali mengirim pesan singkat setelah itu hilang entah kemana. Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan kemana ia beberapa hari belakangan ini namun nampaknya situasinya belum memungkinkan.

Akhirnya aku terlelap dengan ponsel yang masih tergenggam ditanganku karena menunggu balasan dari Abin.

***
Cuaca pagi ini sedang tidak bersahabat mendung dan tiupan angin yang membuat badan menjadi tidak enak. Pagi ini aku lihat seorang Abin diantar oleh seorang wanita kira-kira umurnya sebaya dengan ibuku. Biasanya ia hanya diantar oleh supirnya atau berangkat bersama temannya.

"Abin" aku memanggilnya sambil berlari kecil ke arahnya. Ia menoleh namun terus berjalan melanjutkan langkahnya. Aku berjalan cepat menghampirinya "Abin tunggu". Ia menghentikan langkahnya. Nafas ku tak beraturan ketika sampai didekatnya. 
"Kenapa?"
"Lo marah sama gue?"
"Marah?" jawabnya heran.
"Yaa iya marah abis tadi gue manggil lo trus kenapa malah terus jalan aja gitu?" jawabku kesal.

Belum sempat Abin menjawab "Raveeenn" panggil seorang lelaki dari arah belakangku. 
"Gue duluan ya ven" ia berlalu dari hadapan ku.

"Hei yuk ke kelas bareng" Angga menepuk bahu ku dan kemudian menarik tanganku untuk berjalan bersama menuju kelas.

Sikap Abin aneh sekali kali ini aku sangat yakin ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.

Aku meletakkan tas di atas meja ku kemudian duduk disamping Rina yang sedang asik duduk di lantai sambil membaca majalah.
"Rin tadi gue ketemu Abin di depan"
"Teruss?"
"Yaa itu masa cuma seperlunya doang gitu ngomongnya"
"Cemburu kali" ucap Rina sambil terus membolak-balikan majalahnya.
"Cemburu kenapa? gue punya salah apa ya sama dia? apa mungkin karena dia lagi ada masalah?"
"Ven inget gak lo kan punya janji buat nemenin dia nonton. Lo ajak aja dia nonton trus kan lo bisa tanya-tanya tuh pas kalian jalan bareng nanti. Udah ahh gue mau ke toilet nitip majalah gue bentar ya" Rina menaruh majalahnya diatas rok ku.

"Duh iya juga ya dulu Abin pernah ngajak nonton tapi karena Angga udah keduluan ngajak gue waktu itu jadinya gak jadi. Apa gue sms dia aja buat ngajak nonton? tapi kan yang semalem aja sms gue gak dibales? Apa pas istirahat aja ya gue samperin dia" tutur ku dalam hati.

"Selamat pagi semua hari ini ibu mau kalian bikin kelompok yang terdiri dari 5 orang dan harus ada cowo sama cewe didalam kelompoknya" ibu Dila telah masuk kedalam kelas.

Kemudian semua siswa sibuk membuat kelompok untuk pelajaran biologi pagi ini.
"Ven gue sama Angga bareng sama lo ya" teriak Odi dari bangku belakang.
"Yaudah pas 5 orang jadinya" sambung Rina.
Akhirnya kelompok kami telah terkumpul 5 orang yang terdiri dari aku, Rina, Meylin, Odi dan juga Angga.

"Jadi ibu mau kalian keluar kelas untuk meneliti daun yang ada dilingkungan sekolah, tuliskan bagian-bagian apa saja yang terdapat pada daun kemudian jangan lupa dicatat datanya. Apa yang kalian amati nanti harus dibuat laporan dan dikumpulkan minggu depan" cukup jelas atau masih ada pertanyaan?.
"Jelas buuuuu" semua siswa menjawab serentak.
"Oke jadi kalian sudah bisa keluar dari kelas dan mulai mengamati" ujar bu Dila.

Masing-masing kelompok mulai berpencar mencari kira-kira pohon apa yang daunnya akan di amati.
"Ehh gak usah jauh-jauh dehh kesana-sana mending ini aja kayaknya juga bisa buat di amati" Meylin menunjuk pohon yang cukup rindang dan letaknya tak jauh dari kelas kami.
"Boleh-boleh nih udah ini aja" Odi mulai duduk dibawah pohon dengan beralas rumput-rumput kecil yang tumbuh di sekitaran pohon tersebut.

"Gue ambil ya beberapa daun nya" Angga mulai memetik beberapa daun sebagai sampel untuk di amati.

***
"Bro..broo lagi pada ngapain lo?" tanya Indra salah satu teman sekelas ku melalui jendela kelas.
"Wessss brooooh ini nih lagi piknik join with us guys" jawab Odi.
"Ahahahaa..bisa aja broo lagi tugas biologi ya? kelas gue udah tuh minggu kemaren."
"Iya nih, lo ga ada guru?"
"Gak tau soalnya belum dateng nih gurunya lumayan deh bisa ngeliat Rina dari sini" goda Indra.

Mendengar percakapan Indra dengan Odi aku terbujuk untuk melihat siapa saja sebenarnya yang berada diluar kelas. Aku menoleh ku lihat ada Raven di sana. Pohon yang daun nya sedang mereka amati memang terletak persisi di depan kelas ku. Entah kenapa setelah melihat ada Angga di tengah-tengah mereka aku menjadi tak selera untuk terus mengamati keluar kelas.

"Bin ke kantor guru dong coba liat bu Deka udah dateng belum kalau gak masuk kan gue mau ke kantin" ujar Indra.
"Ahh males ndra keluar lo aja gih sana" jawabku.
"Ayook buruan lo kan ketua kelas" Indra mendorong badanku berusaha untuk membangkitkan ku dari tempat duduk.
"Iyaa bentar-bentar gue masukin komik gue dulu".

Aku keluar dari kelas dan menuju ruang guru untuk melihat apakah bu Deka ada di ruangan atau tidak. Alangkah tidak menyenangkannya harus melewati sesuatu yang sangat aku hindari.

"Abiiiin" suara perempuan yang tak asing pernah ku dengar memanggilku. Ia berlari mendahului ku kemudian tepat berdiri di depanku "Bin gue mau ngomong bentar".
"Ven gue harus ke ruang guru kalau lo mau ngomong bisa nanti aja istirahat" aku berlalu dari hadapannya.
"Abin gue mau ngajak lo nonton besok sore abis pulang sekolah, kalau lo mau bales sms gue kalau gak mau ya udah terserah".
Aku berhenti mendengar perkataan Raven barusan. Aku hanya menoleh dan untuk beberapa saat menatap wajah Raven kemudian melanjutkan perjalananku menuju ruang guru.


Bersambung....

Sunday, 15 September 2013

Indonesian Jass Festival

Hellooooo selamat sore....

Jadi gini ceritanya bulan Juli kemarin di tanggal 30 dan 31 Agustus gue baru aja nonton pertunjukan semacam event jazz gitu yang namanya Indonesian Jass Festival. Bertempat di Istora Senayan event yang baru pertama kali di selanggarakan itu sukses bikin gue penasaran buat datang.

Awal-awal seperti biasa cek line up artist yang bakal perfom di acara itu. Jengg....jengg... pas diliat ternyata banyak banget idola gue main di Indonesian Jass Festival. Lalu dilanjut dengan liat harga tiketnya, yaaa gak terlalu mahal si tapi emang susah kalau punya jiwa gratisan dan kuisan jadinya gue coba buat ikutan kuis disana-sini. Niat gue saat itu kalau gak dapet gratisan baru beli tiket..hahhahaa

Akhirnya di 2 minggu sebelum acara gue mulai sibuk cari siapa aja yang lagi ngadain kuis. Sempet hopeless gitu ternyata ketinggalan banyak kuis tapi semangat gratisan gue gak berhenti disitu. Di sela-sela ke hopeless-an gue ternyata ada angin segar salah satu majalah bernama Provoke sedang mengadakan sebuah kuis segeralah gue merapat, kuisnya simpel aja cuma disuruh jawab pertanyaan gitu di webnya. Yaa dengan niat kuat dan juga keyakinan kalau rezeki gak kemana gue jawab dengan sebisa gue. Satu hari kemudian lagi asik-asiknya main games di handphone tau-tau masuk mention dan disana tertulis gue menangis 1 tiket terusan. Yakkk... ternyata keberuntungan gue masih ada.

Selesai persoalan tiket datang lagi persoalan kedua, sama siapa gue mau datang kesana?. Karena momennya lagi pas banget gue yang lagi libur panjaaaaaang banget jadi sempet terpikir buat datang kesana sendirian. Tapi pergerakan gue gak sampe situ ternyata salah satu koran yang udah gak asing di telinga lo semua bernama Kompas sedang ngadain kuis buat menangin satu tiket yang berlaku buat dua orang. Gue gerak cepet dongg lumayan dapet dua satu lagi bisa gue lelang ke siapa gitu yang mau nemenin gue nonton. Lalu gue dapet kabar kalau ternyata gue menangin kuis itu dan jadilah gue megang tiga tiket buat hari jumat dan satu tiket buat hari sabtu.

Akhirnya hari Jumat pun tiba, hari pertama Indonesian Jass Festival. Pagi-pagi gue ngajak beberapa temen gue buat nemenin tapi dengan berbagai macam alasan gak bisa. Sampai akhirnya tiket itu jatuh ke tangan saudara gue disamping rumah yang kita udah lama banget gak nonton event musik barengan dulu sering banget tapi karena kesibukan masing-masing jadinya rada jarang gitu. Sorean kita berangkat dengan penuh gairah karena udah gak sabar buat happy-happy disana. Lo bisa bayangin gue udah lumayan juga gak begini liat musik dan foto. Kangen banget!.

Ada cerita sedikit dan cukup menyenangkan. Jadi ceritanya sehari sebelumnya gue hubungin contact person yang ditulis di email dari kompas buat nanya pengambilan tiket. Sempet sms-an dan sampai akhirnya ketemu di depan tempat jual tiket, gue ketemu orangnya terus sikut-sikutan sama saudara gue dan intinya kata dia "Lo menang banyak hari ini" hahhahaaa....

Abis nuker tiket kita berdua pun segera masuk, terdengar suara musik yang serasa kayaknya bikin gue antusias banget hari itu. Hari itu gue pengen banget liat Andien dan Monita. Sebelum liat Andien yang masih lumayan cukup lama akhirnya gue memutuskan liat penampilannya Inna Kamarie, ini juara banget menurut gue. Entah roh apa yang masuk kedalam tubuh penyanyi ini semuanya sampe banget ke penonton. Emang beda penyanyi yang nyanyi pake hati kerasa banget sampe hati.. hahahaa *apaaa sii*.

Ini dia beberapa foto yang sempet gue ambil selama di event Indonesian Jass Festival di hari pertama..




Inna Kamarie
Lebih banyak foto lihat disini




Bag Beat
Lebih banyak foto lihat disini




Andien Aisyah
Lebih banyak foto lihat disini






Monita Tahalea
Lebih banyak foto lihat disini

Hari pertama di Indonesian Jass Festival cukup berhasil memuaskan kerinduan gue buat motret dan merasakan atmosfer penonton yang selalu menyenangkan ketika nonton event musik kayak gini. Karena terbentur jam malam pulang kerumah jadinya gue cuma liat sampe Monita di hari pertama. Dari beberapa performance yang gue liat hari itu juaranya Inna Kamarie gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia.

Lanjut di hari kedua. 
Sempet gundah gulana hari kedua mau dateng apa enggak. Masalahnya tiket di hari sabtu cuma ada satu cari temen barengan dari rumah juga udah gak memungkinkan. Liat tiket nganggur gitu aja rasanya gak tega banget kalau gak kepake. Akhirnya gue pun memutuskan buat dateng lagi di hari sabtu sendirian. 

Hari kedua gue berangkat agak lebih cepet soalnya mau ngejar liat penampilannya soulvibe yang menurut jadwal si jam setengah 5. Gue sampe disana jam 5an sampe sana langsung lari ke stage dimana mereka perfom yaaaa lumayan menikmati beberapa lagu dari soulvibe.

Abis itu lanjut beralih ke stage lain yaitu gue menuju indosat stage dan liat penampilan dari penyanyi cantik favorit gue banget, Radhini. Setelah dari lama banget pengen liat akhirnya hari itu kesampean juga. Suaranya enak banget kaya kalau lagi makan soto mie anget-anget pas ujan. Walaupun hari itu gue sendirian untungnya ada kamera tercinta yang nemenin gue jadinya gak keliatan gak ada kerjaan banget sih..hahahaa.

Selesai Radhini gue jalan-jalan sendiran liat-liat sambil nunggu penampilannya The Groove. Disini juga gue pertama kalinya liat The Groove secara live dan emang musik mereka disukai banyak kalangan keliatan dari yang tua sampe yang muda jadi satu bareng-bareng nyanyi saat itu. Gue juga sebenernya ngincer banget penampilannya Sketsa tapi karena bentrok jam nya sama BLP akhirnya gue gak beruntung kali ini buat liat mereka. 

Oh iya sedikit cerita jadi ceritanya gue mau masuk ke indoor stage, karena bentar lagi penampilannya BLP akhirnya gue masuk dan gak tau gimana karena gue yang lagi sibuk main hape. Tiba-tiba gue nyasar dan malah sampe di pintu keluar yang nembus ke stage didepan. Gue tersadar kalau gue ternyata kelewatan pintu masuknya males balik lagi gue akhirnya memilih untuk keluar sambil liat-liat dan muter lagi lewat pintu pertama yang gue masukin. Dari kejauhan terlihat sosok yang gak asing sedang membawa popcorn dan sebuah minuman. Gue pun berjalan dan gak lama semakin jelas keliatan sosok orang itu. Ternyata sosok itu adalah kabay a.k.a Bayu Risa. Gak nyangka dia masih ngenalin muka gue yang hari itu udah kumel banget karena kegerahan. Terjadi lumayan banyak percakapan gue sama kabay yaaaah setidaknya seneng walaupun sendiri tapi dapet cipika cipiki sama kabay.. :p

Sempet jalan berbarengan masuk ke stage yang ternyata kita sama-sama mau liat BLP tapi karena doi di panggil temennya jadi misah deh. Akhirnya gue pun sampe ke stage tanpa nyasar lagi. Rame banget penontonnya. BLP keren dan selalu keren malahan, hari sabtu semua artis yang perfom keren-keren banget jadi gak nyesel akhirnya dateng. Lagi dan lagi karena terbentrok jadwal pulang malam gue pun hanya melihat sampai penampilan dari BLP. Sebenernya pengen liat Maliq & D'essentials tapi mereka malem banget jadi next time aja.

Ini beberapa foto yang gue ambil di hari kedua Indonesian Jass Festival.





Soulvibe




Radhini Aprilya
Lebih banyak foto lihat disini




The Groove
Lebih banyak foto lihat disini




Barry Likumahuwa Project
Lebih banyak foto lihat disini


Itulah sepenggal kisah menyenangkan yang gue bawa dari dua hari gue menghadiri event Indonesian Jass Festival. Acaranya dan pengisi acaranya keren, yang paling gue suka si gak ngaret lama jadi pas waktunya gak bikin bete. Pokoknya selalu menyenangkan bisa motret dan menikmati musik kaya gini. \'0'/

Wednesday, 4 September 2013

Rindu

  

Aku pernah untuk beberapa waktu tak memikirkanmu. Aku mencoba berhenti untuk melihat, mendengar dan merasakan apa yang bisa membuatku teringat olehmu. Niat ku tentu saja bukan untuk benar-benar membencimu dan lupa dengan sosokmu. Namun aku hanya ingin melihat sebuah kebahagiaan lain yang telah semesta ciptakan untukku. Kebahagiaan dalam bentuk lain. Aku tak bisa terus memaksa keadaan yang memang sudah hanya bisa seperti ini. Yaa.. "Hanya bisa seperti ini".

Sayang sekali semua itu tak berlangsung lama. Mengapa Tuhan senang sekali memberiku mimpi tentangmu?. Disaat aku telah bersusah payah mencoba untuk mengerti dan memahami. Mimpi itu datang tepat dimana aku mencoba untuk tak menoleh ke arahmu. Waktu itu aku hanya bisa menahan rasa kesal dalam dada ini. Kesal sekali.. entah aku bingung ingin marah kepada siapa?.

Ingin sekali menangis. Menangis di pelukmu... "kalau bisa". 

Perkara melihatmu dalam bunga tidurku saja bisa membuatku menulis seperti ini. Bersusah payah untuk tak mengikuti arahmu namun nampaknya aku masih bermain-main didalam sana. 

Aku heran mengapa harus ada cinta yang seperti ini. Mencintai hanya dari satu sisi dan sisi lainnya tak pernah memberinya ruang untuk sekedar mengucap. Aku takkan menyakitimu atau merebutmu dari siapapun. Aku hanya ingin memberi tahu kepadamu bahwa akan ada yang selalu tersenyum bahagia ketika ia tahu kau selalu dalam perlindungan NYA. 

Jikalau aku bermimpi lagi tentangmu malam ini. Bolehkah aku memintamu datang dengan raut wajahmu yang dipenuhi dengan senyuman itu?. Senyuman yang bisa membuat rinduku ini menepi walau untuk beberapa saat.

Tuesday, 27 August 2013

Endah N Rhesa - Silence Island

  

Welcome to reality
You may have to see
Live in children's fantasy
Dream will set you free

Calling for imagination
Powered by the brain invention
Losing all the saturation
Flying underneath the stars

Animate the tragedy
Freedom of the land
Craving for technology
It never comes to an end

I use to play with my mind
Acting as somebody else
To switch my point of you in many things
I learn how people can survive in Silence Island
And send a message to through the knowledge
To build an empire of the world


Thursday, 22 August 2013

Gathering SMACI



Gathering SMACI 2008/2009
Tanjung Lesung
16 Agustus 2013

Tuesday, 20 August 2013

Note To Self



"Be grateful with every little thing you have, no matter how meaningless it is to you right now. One day it can be bigger than you imagine" - Barry Likumahuwa
"Stop complaining and Do something" - Danny Oei Wirianto
"Daripada berkecil hati, lebih baik memantaskan diri" - Joey 21st Night

Wednesday, 17 July 2013

Jangan Menyerah Untuk Melawan


     Setiap hal yang dilakukan pasti mempunyai maksud dan tujuannya masing-masing. Semua terjadi karena alasan. Kata orang mencintai dengan tulus adalah ketika kita tak mempunyai alasan ketika ada pertanyaaan "Mengapa kita bisa mencintainya?". Tapi bagi saya entah walaupun hanya sedikit hal tersebut awalnya pun pasti beralasan. Alasan-alasan lain yang terkadang membuat diri kita banyak dikasihani oleh diri kita sendiri. Alasan yang terkadang membuat kita hanya mau tapi tak mau bertindak apa-apa. Sedangkan mie instan yang disebut makanan instan pun harus dimulai dari proses memasak air kemudian memasak mie tersebut hingga matang. Walau memang tak selama memasak seperti sedang membuat rendang daging. Namun itu menunjukkan segala sesuatu itu harus dimulai dari proses yang walaupun hanya sedikit tetapi tidak ada yang tahu akan menjadi apa nantinya. Mie instan yang hanya dimasak kurang dari 5 menit saja bisa sama enaknya dengan memakan rendang daging ketika tanggal tua tiba. Hal itu menunjukkan bahwa apapun yang kita lakukan walaupun hanya sedikit itu akan lebih berarti daripada dengan orang yang hanya bisa diam dan terkadang berlagak sudah melakukan banyak hal.
     Dulu saya orang yang hanya mau namun tidak mau melakukan apa yang saya mau tersebut menjadi kenyataan. Hanya terus mengkasihani diri sendiri dengan terus bermanja-manja dan berkata bagaimana nanti saja. Namun kalau begitu terus kapan saya berkembang menjadi seseorang yang lebih baik?. Saya masih terus belajar untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik. Manusia yang bisa berguna untuk diri saya sendiri syukur-syukur untuk orang lain. Sekarang saya coba merealisasikan apa yang ada didepan mata saya. Rencana-rencana yang ada dikepala saya, apa-apa yang seharusnya sudah saya kerjakan itu semua satu persatu mulai saya lakukan. 
     Sedikit bercerita jadi beberapa waktu yang lalu saya ikut salah satu lomba cerpen yang diadakan salah satu penerbit indie. Salah satu teman saya memberi informasi tersebut kepada saya, awalnya saya tidak ingin mengikuti lomba tersebut. Kemudian sampai akhirnya saya melihat draft tulisan-tulisan cerpen yang saya punya di dokumen komputer. Begitu banyak hanya beberapa yang akhirnya saya selesaikan. Melihat dari situ saya coba membaca kira-kira cerita mana yang masuk dengan tema dari lomba cerpen tersebut. akhirnya satu judul cerita saya pilih untuk diselesaikan dan dikirimkan untuk perlombaan tersebut. Cerita yang sudah lama sekali saya buat namun baru sekarang terselesaikan. Singkat cerita pada hari pengumuman pemenang lomba tersebut diumumkan nama saya tak tercantum dari 200 karya terpilih yang akan dibukukan.
     Saya merasa gagal!. Harapan karya saya untuk masuk disalah satu dari cerita yang akan dibukukan tidak terwujud. Kecewa itu manusiawi siapapun pernah gagal bahkan penulis best seller sekalipun pernah merasakan naskahnya ditolak penerbit berkali-kali. Hal itu yang kemudian saya coba pahami baik-baik ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti lomba cerpen setelah kemarin saya tahu ada lomba cerpen tapi saya tidak pernah bisa menyelesaikannya. Ini lebih baik beberapa langkah dari sebelumnya, saya lihat draft tulisan saya yang belum rampung berkurang. Saya mempunyai satu cerpen yang penah dilihat dan dinilai walaupun belum sesuai keinginan. 
     Begitu banyak yang bisa dipelajari dari sebuah kegagalan. Karena gagal namun pernah mencoba itu lebih terhormat daripada gagal karena tak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya ingin terus bersemangat untuk mencapai apa yang ingin saya capai. Satu persatu, perlahan demi perlahan, proses demi proses dan itu hal yang pastinya bermanfaat untuk diri saya sendiri.

Tuesday, 2 July 2013

Black Male


Perempuan ini selalu bertanya ketika ada suatu hal yang terkadang tak bisa meyakinkanya. Kemudian ia berdoa agar akan ada jawaban entah darimana datangnya. Riuh bintang dengan cahayanya yang terkadang lebih banyak dari sebuah bulan juga seiring dengan tubuh yang berselimutkan ucapan selamat malam dari sang semesta. Mungkin dari situ Pemilik Semesta memberikan jawaban atas apa yang tak bisa ia yakini untuk saat ini.

Adegan demi adegan yang entah memang sudah dipersiapkan atau hanya hasil dari refleksi apa yang ia pikirkan. Dirinya hadir dalam bunga tidurnya kali ini. 

Ia hanya memandangi sesosok laki-laki yang tak asing lagi baginya. Sambil terus mengamati dan mencoba mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. "Ini boleh diambil nanti kasih lagi ya" ucapnya kepada salah seorang temannya. Perempuan ini pun coba mendengar kemudian menyamakan dengan suara yang sebelumnya ia pernah dengar. Bertahun mengaku mencintai namun tak pernah sekalipun ia mendengar suaranya. Kali ini ia yakin bahwa itu adalah suara yang pernah ia dengar.

Pagi ini ia bangun dengan perasaan yang harusnya tak dirasakannya. Sebelumnya ia memang merasakan rindu yang bisa dibilang seharusnya sudah menjadi kadaluwarsa. Namun Pemilik Semesta ini terlalu baik sehingga lagi dan lagi ia mengirimkan sosok itu lewat bunga tidurnya.

Dipandanginya lelaki itu. Ia melihatnya dari balik tembok entah dimana saat itu yang ia lihat di suatu jalan lelaki itu berjalan bersama segerombolan teman-temannya. Matanya terus megikuti setiap gerak-gerik lelaki itu. Sampai pada akhirnya lelaki itu berhenti untuk sekedar membasuh keringat dimukanya. Lelaki itu membuka jaketnya sekarang yang ada hanya ia mengenakan kaos polos berwarna hitam. Perempuan ini hanya terus berdecak kagum akan apa yang sedang ia lihat.

Lalu ditengah perjalanannya perempuan ini mencoba menghampirinya. Ia mendekat kearah lelaki itu yang masih membelakanginya dan tak mengetahui kehadirannya. Ia menyebut nama lelaki itu dan berkata "Aku kangen kamu". Terkaget perempuan ini ketika mendengar jawaban dari lelaki itu dan ia masih belum berbalik dari posisi awalnya. Lelaki itu berkata "Hampiri aku kemudian peluklah aku". 

Wednesday, 26 June 2013

Jazzy Nite Citos

A free live music entertainment experience every 1st & last Friday of the month.




















 Photo by Qiqi Nur Indah Sari

Edisi Pertama 7 Juni 2013
Bubu Giri
Eva Celia
Indra Lesmana
Maliq & D'essentials

Thursday, 30 May 2013

Tak berjudul


"gaaaaaa..... tungguinn !!" Tiba-tiba saja terdengar suara perempuan memanggil, rasanya suara berisik itu tak asing lagi di telinga Yoga. Benar saja belum sempat menoleh "Buggg..." suara pukulan seseorang memukul punggungya dengan buku.

"Buru-buru banget sih capek nih ngejar-ngejar lo lari-lari begini" perempuan itu terdengar amat kesal karena memanggil Yoga yang tak kunjung menoleh. "Wetsssss buk santai dong sakit nih punggung gue" ujarnya sambil mengelus-ngelus punggungnya sendiri.

" Ntar malem temenin gue pergi yuk bosen nih bokap nyokap lagi ke Bandung" terang Alika. Alika memang sering sekali mengajak Yoga keluar ketika ia sedang ditinggal pergi kedua orang tuanya walau hanya sekedar untuk menemaninya makan malam ataupun  memutari jalan komplek. Maklum Alika adalah anak tunggal di keluarganya jadi siapa lagi yang diajaknya untuk bermain selain Yoga sahabatnya semenjak sma.

"Aaaaahh gak bisa lo jalan sama mbok aja sana..." tiba-tiba Yoga menolak sembari jalan meninggalkan Alika. "Bugggggg" Alika memukulnya lagi. Kali ini langkah Yoga benar-benar terhenti lalu menoleh dan memegang pundak Alika sambil berkata "Alika sayang lo tau gak gue ini manusia punya tulang bukan kasur yang bisa lo pukulin". Alika pun kesal mendengar pernyataan kalau Yoga tak bisa menemaninya. Seharusnya Yoga yang kesal karena sudah dua kali ia terkena pukulan Alika. Wanita itu memang begitu harus selalu saja dituruti kemauannya. 

"Kenapa gak bisa? biasanya juga bisa?" sambil mengerutkan dahi dan mengangkat satu alisnya yang cukup tebal. Kali ini Yoga harus dengan berat hati menolak ajakan Alika karena nanti malam ia telah mempunyai janji dengan Jeny. "Soalnya gue udah ada janji sama seseorang" Yoga pun terpaksa harus mengatakannya pada Alika, padahal ia sudah berusaha pulang lebih cepat agar tak bertemu Alika di kampus tetapi apa mau dikata Alika berhasil menemuinya.

"Siapa yang udah bisa bikin lo gak bisa nemenin gue? jangan bilang Jeny?" tanya Alika dengan dahi yang semakin mengkerut ditambah alis dan matanya yang semakin sinis. Entah mengapa Alika memang selalu saja sebal ketika Yoga berbicara mengenai Jeny.

"Ka, maaf banget gue gak bisa nemenin lo kali ini, ya itu tadi gue udah ada janji sama Jeny nanti malem" Yoga coba menjelaskan dengan hati-hati. Akhirnya tanpa berkata apa-apa lagi Alika pun pergi tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Yoga.

***

Malam ini adalah pertama kalinya kami bertemu setelah hampir 4 tahun kami tidak bertemu.

✉ Jen, aku udah di depan. kamu keluar  yaah :)

Tepat jam 7 aku sudah berada di depan pintu gerbang rumah Jenny tak akan ku biarkan kesempatan ini terlewat begitu saja.

"Hei, ga maaf agak sedikit lama" tiba-tiba dari arah belakang suara merdu itu menelusup ke telinga ku. Jenny terlihat sangat cantik bibir nya yang tipis dibalut dengan lipstick berwarna pink muda, rambutnya dibiarkan terurai sebahu dengan kaos polos berwarna putih dipadu dengan jeans dan flatshoes berwana merah.

Selama didalam mobil kami hanya saling terdiam dan aku yang sesekali mencuri-curi pandangan ke arah Jenny. Walaupun sesekali pula kami membahas obrolan yang sudah standard sekali ditanyakan. "Kita mau kemana ini ga?" tanya Jenny dengan suara lembutnya. "Sebentar lagi juga nyampe kok nanti kamu juga tahu" jawabku sambil mengulum senyum.

Akhirnya kami sampai disebuah tempat roti bakar langganan kami sewaktu smp dulu di daerah fatmawati. "Aahhh aku kangen tempat ini ga" ujar Jenny sambil tersenyum dan memegang bahuku setelah kami turun dari mobil. Dulu ketika kami masih smp tempat roti bakar ini adalah favorit kami. Sepulang sekolah atau sehabis les pasti kami memadamkan rasa lapar kami kesini.

Seorang laki-laki yang melayani di tempat ini memberikan kami menu "terima kasih mas" ucap ku kepada pelayan itu. "Kamu masih mau kita pesan menu yang suka kita pesen pas smp dulu gak jen?" tanyaku. "Boleh udah lama banget aku gak makan itu" jawabnya. Kami berdua sama-sama memesan roti bakar keju dan itu adalah menu yang sering kami pesan dulu ketika perasaan ini belum jauh tumbuh dewasa seperti kami sekarang ini.

Aroma roti bakar dengan segala macam rasa bercampur dengan hangat dari secangkir wedang ronde semakin membuat rinduku terhadap Jeny tak terbendung lagi. Wanita ini kini didepan ku, aku bisa melihat ia memakan roti bakar kesukaannya.

"Jen.." sambil ku pegang tangannya. Jeny melirik kerah tangannya yang telah aku genggam sangat erat. Kemudian aku bertanya "Kalau Tuhan memberi kesempatan kedua untuk seorang manusia kemudian ia harus bagaimana?". "Kalau ia pikir kesempatan itu masih penting ada baiknya mencobanya lagi" jawab Jeny sambil melepaskan tangannya. Kesempatan yang mana lagi yang akan aku tinggalkan setelah sekian lama penyesalan itu ada.

Suasana menjadi lebih hening diantara kami berdua sehabis aku bertanya seperti itu pada Jeny. Aku yakin tangan yang di lepaskan itu pertanda bahwa memang ia tak menginginkan untuk kedua kalinya. Namun aku berharap untuk bisa memperjuangkannya sampai benar-benar ini semua tidak bisa diperjuangkan. Penyesalan karena tak pernah mencoba itu lebih menderita dibanding dengan menerima kenyataan yang tak diinginkan.

Kami pun pulang aku mengantarkan Jeny ke rumahnya dengan tidak ada lagi sepatah kata pun yang keluar dari mulut aku maupun Jeny selama perjalanan. Entah apa yang salah dari pertanyaan dan sikap ku tadi kepada Jeny.

Sesampainya dirumah Jeny, ia langsung saja membuka pintu mobil dan begitu saja masuk kedalam rumah. "Jen.. kamu gak mau ngomong apa-apa lagi?". Jeny menoleh dan hanya tersenyum sambil berlalu menuju dalam rumahnya.
***

"Yoga kemana ya kok hari ini dia gak masuk? dikirain telat taunya emang ni anak gak masuk" gerutu Alika dalam hati sambil memasukkan buku-buku kedalam tasnya. Sedari tadi aku coba menghubunginya pun tak ada jawaban.

Aku menuju rumah Yoga dan berharap ia hanya ketiduran sehingga tidak berkuliah hari ini. Belum sempat aku turun dari mobil persis didepan rumahnya terlihat Yoga membuka pintu gerbang rumahnya dengan motor yang telah siap. Segera aku menghentikan mobil lalu menghampirinya " Yoga lo mau kemana?". Lelaki bermata coklat itu pun hanya menoleh sikapnya aneh ia tak menghiraukan panggilanku dan tetap menaiki motornya. 

"Yoga.. ehhh kenapa si lo aneh banget". Tatapan matanya kosong aku tidak tahu apa yang telah terjadi semalam sampai-sampai Yoga seperti ini. "Minggir ka gue mau pergi ada urusan" ia pun tetap pergi sama sekali tak menghiraukan ku.

Aku tak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi ada apa dengan Yoga. Seketika aku terpikir terpikir tentang Jeny mungkin ada hubungannya sikap Yoga dengan pertemuan mereka semalam. 

Yoga sangat cepat melaju dengan motornya aku tak bisa mengikuti kemana ia akan pergi. Kalau dengan kondisi yang seperti ini kami biasanya pergi ke salah satu taman dekat komplek rumahku. Taman itu terlihat biasa namun ada satu yang membuatnya istimewa yaitu bangku taman yang ketika diduduki akan langsung mengarah tepat ke tempat permainan anak-anak. Yoga senang sekali dengan anak kecil jikalau hatinya sedang tidak enak pasti ia senang duduk disana berlama-lama melihat anak-anak bermain. 

Namun sayangnya bangku itu kosong Yoga sama sekali tak terlihat disana. Aku rasa ia memang benar-benar ada urusan yang sangat penting. Mungkin menemui Jeny.. aku tahu kalau Yoga sangat mencintai Jeny semenjak mereka sama-sama di bangku smp. Aku juga tahu kalau selama mereka tak bersama semenjak Jeny memutuskan untuk kuliah di luar negeri Yoga masih terus memikirkannya. Kemudian aku juga tahu kalau perasaan ini tak akan pernah bisa terbalas.

Yoga sahabatku namun aku tak pernah benar sungguh-sungguh meinginkannya untuk selalu menjadi seorang sahabat. Aku ingin ia mencintaiku dengan teramat sangat seperti ia mencintai Jeny. Aku ingin ia selalu menjaga dan menemani ketika aku ditinggal oleh kedua orang tua ku ketika bertugas diluar kota. Aku juga ingin untuk bisa selalu menemaninya disini duduk berdua di bangku taman sambil melihat sekumpulan anak-anak yang bermain.
***

Tak pernah pikiranku serumit ini aku hanya ingin Jeny sadar bahwa kalaupun ada orang yang menunggunya dengan setia itu hanya aku. Didepan rumah Jeny  terlihat pak diro supir Jenny sibuk memasuki barang-barang Jeny kedalam mobil bagaimana tega Jeny membohongi aku.

"Pagi pak.. Jeny ada didalam?". "Ohh ada den masuk saja kedalam".

Aku memasuki rumahnya nampaknya terlihat sepi namun di tengah ruangan bernuansa minimalis seorang wanita sedang duduk di sofa. Aku duduk disampingnya "Kenapa kalau kamu pergi aku gak boleh tahu?". Jeny terlihat sangat kaget mengetahui aku ada disampingnya tiba-tiba saja ia berdiri dan memasukan sesuatu kedalam tasnya. "Yoga kamu kenapa bisa disini?" jawabnya terbata-bata. "Kamu bahkan gak pernah tahu kenapa aku selalu coba ada disamping kamu".

"Yoga maaf aku harus berangkat sekarang" Jeny mencoba mengalihkan semua pembicaraan. "Jen aku bukan pembunuh yang bisa bahayain kamu aku cuma perlu kamu denger" ku halangi langkah Jeny. "Aku gak perlu denger apa-apa dari kamu ga sekarang aku mohon kamu minggir".

Aku menghela nafas "Oke kalau itu mau kamu.. silahkan pergi". Jeny berlalu meninggalkan ku tanpa membiarkan semua penyesalan ini terampuni walaupun hanya sedikit. 

"Yoga kamu mau tahu kenapa semenjak malam itu aku gak ngomong apa-apa lagi sama kamu?" tiba-tiba suara itu bagaikan air segar ditengah hamparan pasir. Aku yang masih membelakangi Jeny kemudian menoleh. 

"Ini.. ini yang bikin aku pengen kamu ngerti kalau gak bisa terus-terusan kamu mencintai aku" jeny menunjukkan selembar kertas.
"Kenapa kamu larang aku mencintai kamu Jen?"
"Ini ga.. gimana bisa aku ngehancurin kebahagiaan wanita yang hatinya lebih besar dibanding aku?"
"Apa si maksud kamu aku gak ngerti?"
"Aku nemuin ini dikaset yang aku pinjem sama kamu waktu dimobil. Waktu sampai rumah aku dengerin dan  
 pas aku buka ada kertas ini ga"

Kubaca selembar kertas ini tertera namanya dibawah akhir tulisan. Dulu Alika memang pernah meminjam kaset ini namun aku tak tahu kalau ia sudah menaruhnya kembali didalam laci mobil. Aku pun tidak tahu kaset apa yang Jeny pinjam semalam dari ku. 

"Ga.. aku mohon kamu pikir baik-baik. Aku belum untuk kamu saat ini. Tapi dia udah punya semuanya buat  
  kamu. Kamu hanya perlu membuka mata kamu lebar-lebar kalau sesuatu yang tulus pasti bakal bisa kamu 
  rasain tapi bukan dari aku."
"Gimana mungkin?"
"Itu cuma kalian yang tahu jawabannya. Dan yang terpenting kamu harus tahu tanpa kamu kasih tahu aku 
 tentang semua perasaan kamu aku udah mengerti ga. Aku ucapin terima kasih sama kamu tapi ada baiknya 
 kamu kasih semuanya ke orang yang tepat."

Kami berpelukan mungkin untuk yang terakhir karena aku tak pernah tahu kapan Jeny akan kembali lagi kesini. "Aku pergi ya ga" perpisahan ini diakhiri dengan kecupan hangat Jeny dikeningku.

Wednesday, 17 April 2013

Hanya Isyarat


Aku jatuh cinta 
Pada seseorang yang hanya mampu ku gapai sebatas punggungnya saja
Seseorang yang aku sanggup menikmati bayangannya 
Dan tidak pernah bisa aku miliki

Seseorang yang hadir bagai bintang jatuh
Sekelebat kemudian menghilang
Sebelum tangan ini sanggup mengejar

Seseorang yang hanya bisa ku kirimi isyarat
sehalus udara, langit, awan atau hujan.



- Hanya Isyarat "Rectoverso" -


Saturday, 16 March 2013

Cinta Pertama


Alhamdulillah... ketika baca postingan di blognya Uli Karenzia yang ngadain giveaway "Cinta Pertama" rasanya gak percaya bisa terpilih jadi Tulisan Favorit. Ini pertama kalinya ikutan lomba nulis tentang cerita gitu dan bisa kepilih rasanya haru banget.. Waktu itu sempet ikutan lomba nulis gitu tapi belum menang tapi akhirnya memang benar ya rezeki gak akan pernah ketuker. Jangan dilihat dari hadiahnya tapi lebih ke bagaimana proses itu berjalan. Menghargai hal kecil yang efeknya akan menjadi besar secara bertahap itu yang selalu saya yakini. Terima kasih sudah memilih cerita saya ini dan kalian yang mau membacanya..

Silahkan yang ingin baca ceritanya dibawah sini yaa... :)



Pagi itu begitu cerah tatkala kami datang ke sekolah baru yang akan membawa kami melepas seragam putih merah ini menjadi putih biru. Semuanya terlihat berbeda sepanjang mata memandang aku menemukan orang-orang baru yang belum pernah aku temui sebelumnya. Hanya beberapa teman saja yang aku kenal karena kami sama-sama duduk disekolah dasar yang sama. 

Disekolah ini pula tempat pertama kalinya aku melihatmu tepatnya kapan aku tidak tahu. Yang aku ingat kelas kami bersebelahan ketika kelas 7 dulu. Aku sering melihatnya entah sedang berbincang dengan temannya yang lain ataupun sedang duduk didepan kelasnya. Bibirnya kecil merah aku suka kulitnya pun putih, walaupun tubuhnya tinggi kurus.. :)

Perlu aku sebutkan namanya? 
Kurasa tidak kau hanya perlu mengetahui ceritanya saja.

Layaknya anak sd yang beranjak menjadi anak smp lumrah rasanya ketika sedang menyukai seseorang. Mungkin aku pun seperti itu bisa dibilang aku sering memperhatikannya setelah pertama kali aku melihatnya. Aku sering memperhatikan ke arah kelasnya yang aku lewati sebelum memasuki kelasku untuk memastikan dia hadir hari ini. Ketika dia sedang pelajaran olah raga aku memandanginya dari dalam kelas. Ketika ia menuju kantin dan melewati kelasku pasti aku menjadi orang pertama yang melihatnya. 

Seiring berjalannya waktu beberapa temanku mengetahui akan hal itu. Pernah ketika aku membuat gantungan kunci berinisial namanya lalu teman dekatku memberitahukan kepadanya. Tapi aku yakin ia tidak memperdulikannya. Teman-teman ku yang lain sering menyampaikan salam kepadanya padahal aku tidak pernah memintanya itu adalah becandaan khas kami pada zamannya. Bahkan aku tahu ia ternyata menyukai teman sekelasnya yang juga temanku  tapi tidak tahu mengapa aku tetap selalu bisa senang hanya dengan melihat dirinya. Terlepas dari semua cerita tentang dia yang menyukai perempuan lain dan bukan aku. Aku selalu bisa membuat alasan untuk tetap menjawab aku menyukainya ketika ada temanku yang menanyakan apakah aku menyukainya?

Usahaku untuk bisa mengenal dan lebih dekat dengannya aku lakukan salah satunya dengan mengirimkan pesan singkat kepadanya. Aku selalu mengirimkan pesan dengan nomor yang berbeda-beda dan dia pasti selalu tahu kalau itu dariku. Huhh.. mungkin hanya aku satu-satunya perempuan yang suka menganggunya dengan cara norak seperti itu. Tapi tetap saja cara apapun tak bisa membuat aku menjadi lebih dekat dengan dia. Berbicara pun tak pernah saling menyapa apalagi saling bertukar senyum itu juga hanya mimpi.

Sampai akhirnya kami akan lulus kalian tahu dia selalu saja menarik dimataku. Padahal aku tidak pernah benar-benar bisa mengenalnya. Aku hanya menyukainya dari balik jendela kelasku. 

Kalian tahu istilah secret admirer? Itu mungkin aku.

Akhirnya kami lulus dibangku smp dan beranjak ke masa putih abu-abu. Aku pernah merasakan jatuh cinta yang sebegitu bisa membuat aku senang kepadanya. Aneh, hal itu tidak pernah lagi aku rasakan kepada laki-laki lain. Di bangku sma aku tidak pernah benar-benar menyukai seseorang sebegitunya seperti aku menyukainya dulu. 

Aku yang tidak mau membuka hati atau memang karena rasa penasaran ini.

Aku pikir ini cinta monyet masa smp tapi sekarang aku bisa menyimpulkan kalau ini adalah cinta pertama yang masih aku jaga dengan baik. Saking baiknya aku bahkan tidak pernah merasakan jatuh cinta lagi dan belum ada yang membuat aku berdegup seperti kepadanya. Terkadang aku bingung dia hanya diam tetapi aku bisa sebesar ini mencintainya. 

Hal indah yang pernah ia berikan adalah ketika setahun yang lalu aku memberanikan diri mengucapkan selamat ulang tahun melalui pesan singkat kepadanya. 

"makasi ya qi udah inget.." balasnya.

Singkat menurut kalian. Tapi panjang untukku karena dari situ aku bisa mengayunkan rasa senang. Setidaknya ia menyebut namaku. Ia mengingat aku, yaa sebenarnya itu biasa. Tapi jika kalian pernah diposisiku aku yakin kalian tahu bagaimana rasanya. Aku hanya menunggu dan menunggu kapan waktu yang tepat untuk menguraikan ini semua. Entah berapa lama lagi aku pun tidak tahu atau mungkin sampai ada seseorang yang bisa membuat aku jatuh cinta lagi.

Sebenarnya seperti mencari sebuah jarum ditumpukkan jerami ketika aku menulis ini. Sulit sekali aneh rasanya kenapa aku masih selalu ingat betul segala tentangnya. Untuk cinta pertamaku yang masih aku cintai sampai saat aku menulis cerita ini.

Xx
Qq


Postingan ini diikutkan dalam rangka memeriahkan GIVEAWAY CINTA PERTAMA Blog Asiknya Menulis


Friday, 1 March 2013

RECTOVERSO




Film Rectoverso sudah tayang dibioskop pada tanggal 14 February 2013. Film Rectoverso adalah film omnibus yang menghadirkan lima cerita pendek dari kumpulan cerpen Rectoverso karya Dewi Lestari (Dee).
Berikut adalah sinopsis dan juga teaser dari ke lima cerita tersebut...




Cicak di Dinding 
Director : Cathy Saron


Disuatu malam, Taja seorang pelukis muda masih lugu bertemu dengan saras seorang perempuan free spirit yang jauh lebih tahu dan lebih berpengalaman. Saras memberikan malam yang berkesan saat  itu. Tanpa direncanakan mereka bertemu lagi. Kali ini mereke berusaha membangun pertemanan, meskipun akhirnya Taja tak kuasa untuk jatuh cinta kepada Saras. Saras memutuskan untuk pergi, menghilang dari hidup Taja, dan meminta Taja untuk tidak mencarinya. Enam tahun kemudian, Taja yang sekarang telah menjadi pelukis terkenal bertemu Saras membawa kejutan yang menentukan hidup mereka berdua.




Curhat buat Sahabat 
Director : Olga Lidya
Writers : Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria

Meskipun berbeda sifat, Amanda yang supel dan  ceria mampu menjalin persahabatan dengan Reggie yang sabar, kalem, dan siap mendengarkan curhat Amanda kapanpun itu. Kapanpun Amanda butuhkan, Reggie selalu hadir. Suatu saat, Amanda jatuh sakit, ia sadar bahwa tidak ada stau orangpun yang bisa ia mintai tolong bahkan pacarnya. Hanya Reggie yang bisa menolongnya. Pertolongan Reggie membuat Amanda menyadari bahwa yang ia butuhkan selama ini hanyalah orang yang menyayangi dia apa adanya dan orang tersebut adalah Reggie. Namun di lain pihak diam-diam Reggie mulai menyadari bahwa cinta ini sudah terlalu tua untuk dirinya.




Hanya Isyarat
Director : Happy Salma
Writer : Key Mangunsong

Lima orang backpackers bertemu lewat forum milis. Meskipun mereka baru beberapa hari bertemu, Tano, Dali, Bayu dan Raga. tampak sudah akrab bagaikan sahabat lama, amat kontras sengan Al yang selalu menyendiri dan menjaga jarak. Diam-diam, Al telah jatuh cinta pada Raga, sosok selama beberapa hari ini hanya mampu dikagumi dari kejauhan siluet punggungnya saja. Disuatu malam, kelima orang ini mengadakan permainan kecil, yaitu berlomba menceritakan kisah paling sedih yang mereka punya. Saat Raga menceritakan kisahnya, Al semakin terpukul. Meskipun Al keluar sebagai pemenang, namun Al semakin terseret pada daya tarik Raga, lelaki yang mungkin tak akan pernah ia miliki selamanya karena sebuah rahasia besar dalam diri Raga.




Malaikat Juga Tahu
Director : Marcella Zalianty
Writer : Ve Handojo

Abang adalah penderita autism yang tinggal dengan ibunya yang memiliki kost-kostan. Salah satu anak kost adalah Leia, satu-satunya yang mengerti Abang. Abang jatuh cinta padanya sementara Bunda (ibu Abang) sangat cemas karena tahu hubungan yang diharapkan tidak akan pernah terjadi. Kecemasan bunda bertambah ketika Han, adik Abang, datang. Hubungan Leia dan Han akan membuat Abang terluka.




Firasat
Director : Rachel Maryam
Writer : Indra Herlambang

Senja bergabung dalam klub firasat, dimana setiap minggu para anggotanya berkumpul untuk berbagi cerita dan berbagai pertanda. Senja bergabung dalam klub itu karena ia selalu mendapat firasat setiap akan ditinggal oleh orang terdekatnya. Ini terjadi sebelum bapak dan adiknya meninggal dunia dalam kecelakaan. Alasan lain yang lebih kuat adalah pemimpin Klub Firasat yang bernama Panca, seorang lelaki kharismatik yang ketajaman intuisi dan pengalamannya soal mendalami firasat begitu mengagumkan. Senja jatuh cinta pada Panca. Hingga suatu hari ia mendapat firasat buruk bahwa seseorang akan meninggal. Apakah itu firasatnya tentang Panca?



**
Film ini hampir menjatuhkan air mata *hampir loh yah tapi belum jatuh*..hahhaa karena biasanya gue gak pernah nangis atau sedih yang teramat ketika lihat film. Tapi di film Rectoverso ini perasaan gue tercampur aduk penuh haru pokoknya dan juga banyak nilai-nilai positif yang bisa diambil dari film ini. Soundtrack untuk film ini juga jadi nilai plus yang bikin cerita di film ini makin bagus dan pas banget deh, para pemainnyaa juga aktingnya super duper keren. Cerita favorit gue di film ini "Hanya Isyarat" dalem banget pokoknya... nyahhhahaha Harus liat film ini karena karya anak bangsa yang sangat membanggakan!! Keren Rectoverso..