Thursday, 30 May 2013

Tak berjudul


"gaaaaaa..... tungguinn !!" Tiba-tiba saja terdengar suara perempuan memanggil, rasanya suara berisik itu tak asing lagi di telinga Yoga. Benar saja belum sempat menoleh "Buggg..." suara pukulan seseorang memukul punggungya dengan buku.

"Buru-buru banget sih capek nih ngejar-ngejar lo lari-lari begini" perempuan itu terdengar amat kesal karena memanggil Yoga yang tak kunjung menoleh. "Wetsssss buk santai dong sakit nih punggung gue" ujarnya sambil mengelus-ngelus punggungnya sendiri.

" Ntar malem temenin gue pergi yuk bosen nih bokap nyokap lagi ke Bandung" terang Alika. Alika memang sering sekali mengajak Yoga keluar ketika ia sedang ditinggal pergi kedua orang tuanya walau hanya sekedar untuk menemaninya makan malam ataupun  memutari jalan komplek. Maklum Alika adalah anak tunggal di keluarganya jadi siapa lagi yang diajaknya untuk bermain selain Yoga sahabatnya semenjak sma.

"Aaaaahh gak bisa lo jalan sama mbok aja sana..." tiba-tiba Yoga menolak sembari jalan meninggalkan Alika. "Bugggggg" Alika memukulnya lagi. Kali ini langkah Yoga benar-benar terhenti lalu menoleh dan memegang pundak Alika sambil berkata "Alika sayang lo tau gak gue ini manusia punya tulang bukan kasur yang bisa lo pukulin". Alika pun kesal mendengar pernyataan kalau Yoga tak bisa menemaninya. Seharusnya Yoga yang kesal karena sudah dua kali ia terkena pukulan Alika. Wanita itu memang begitu harus selalu saja dituruti kemauannya. 

"Kenapa gak bisa? biasanya juga bisa?" sambil mengerutkan dahi dan mengangkat satu alisnya yang cukup tebal. Kali ini Yoga harus dengan berat hati menolak ajakan Alika karena nanti malam ia telah mempunyai janji dengan Jeny. "Soalnya gue udah ada janji sama seseorang" Yoga pun terpaksa harus mengatakannya pada Alika, padahal ia sudah berusaha pulang lebih cepat agar tak bertemu Alika di kampus tetapi apa mau dikata Alika berhasil menemuinya.

"Siapa yang udah bisa bikin lo gak bisa nemenin gue? jangan bilang Jeny?" tanya Alika dengan dahi yang semakin mengkerut ditambah alis dan matanya yang semakin sinis. Entah mengapa Alika memang selalu saja sebal ketika Yoga berbicara mengenai Jeny.

"Ka, maaf banget gue gak bisa nemenin lo kali ini, ya itu tadi gue udah ada janji sama Jeny nanti malem" Yoga coba menjelaskan dengan hati-hati. Akhirnya tanpa berkata apa-apa lagi Alika pun pergi tanpa berbicara sepatah kata pun kepada Yoga.

***

Malam ini adalah pertama kalinya kami bertemu setelah hampir 4 tahun kami tidak bertemu.

✉ Jen, aku udah di depan. kamu keluar  yaah :)

Tepat jam 7 aku sudah berada di depan pintu gerbang rumah Jenny tak akan ku biarkan kesempatan ini terlewat begitu saja.

"Hei, ga maaf agak sedikit lama" tiba-tiba dari arah belakang suara merdu itu menelusup ke telinga ku. Jenny terlihat sangat cantik bibir nya yang tipis dibalut dengan lipstick berwarna pink muda, rambutnya dibiarkan terurai sebahu dengan kaos polos berwarna putih dipadu dengan jeans dan flatshoes berwana merah.

Selama didalam mobil kami hanya saling terdiam dan aku yang sesekali mencuri-curi pandangan ke arah Jenny. Walaupun sesekali pula kami membahas obrolan yang sudah standard sekali ditanyakan. "Kita mau kemana ini ga?" tanya Jenny dengan suara lembutnya. "Sebentar lagi juga nyampe kok nanti kamu juga tahu" jawabku sambil mengulum senyum.

Akhirnya kami sampai disebuah tempat roti bakar langganan kami sewaktu smp dulu di daerah fatmawati. "Aahhh aku kangen tempat ini ga" ujar Jenny sambil tersenyum dan memegang bahuku setelah kami turun dari mobil. Dulu ketika kami masih smp tempat roti bakar ini adalah favorit kami. Sepulang sekolah atau sehabis les pasti kami memadamkan rasa lapar kami kesini.

Seorang laki-laki yang melayani di tempat ini memberikan kami menu "terima kasih mas" ucap ku kepada pelayan itu. "Kamu masih mau kita pesan menu yang suka kita pesen pas smp dulu gak jen?" tanyaku. "Boleh udah lama banget aku gak makan itu" jawabnya. Kami berdua sama-sama memesan roti bakar keju dan itu adalah menu yang sering kami pesan dulu ketika perasaan ini belum jauh tumbuh dewasa seperti kami sekarang ini.

Aroma roti bakar dengan segala macam rasa bercampur dengan hangat dari secangkir wedang ronde semakin membuat rinduku terhadap Jeny tak terbendung lagi. Wanita ini kini didepan ku, aku bisa melihat ia memakan roti bakar kesukaannya.

"Jen.." sambil ku pegang tangannya. Jeny melirik kerah tangannya yang telah aku genggam sangat erat. Kemudian aku bertanya "Kalau Tuhan memberi kesempatan kedua untuk seorang manusia kemudian ia harus bagaimana?". "Kalau ia pikir kesempatan itu masih penting ada baiknya mencobanya lagi" jawab Jeny sambil melepaskan tangannya. Kesempatan yang mana lagi yang akan aku tinggalkan setelah sekian lama penyesalan itu ada.

Suasana menjadi lebih hening diantara kami berdua sehabis aku bertanya seperti itu pada Jeny. Aku yakin tangan yang di lepaskan itu pertanda bahwa memang ia tak menginginkan untuk kedua kalinya. Namun aku berharap untuk bisa memperjuangkannya sampai benar-benar ini semua tidak bisa diperjuangkan. Penyesalan karena tak pernah mencoba itu lebih menderita dibanding dengan menerima kenyataan yang tak diinginkan.

Kami pun pulang aku mengantarkan Jeny ke rumahnya dengan tidak ada lagi sepatah kata pun yang keluar dari mulut aku maupun Jeny selama perjalanan. Entah apa yang salah dari pertanyaan dan sikap ku tadi kepada Jeny.

Sesampainya dirumah Jeny, ia langsung saja membuka pintu mobil dan begitu saja masuk kedalam rumah. "Jen.. kamu gak mau ngomong apa-apa lagi?". Jeny menoleh dan hanya tersenyum sambil berlalu menuju dalam rumahnya.
***

"Yoga kemana ya kok hari ini dia gak masuk? dikirain telat taunya emang ni anak gak masuk" gerutu Alika dalam hati sambil memasukkan buku-buku kedalam tasnya. Sedari tadi aku coba menghubunginya pun tak ada jawaban.

Aku menuju rumah Yoga dan berharap ia hanya ketiduran sehingga tidak berkuliah hari ini. Belum sempat aku turun dari mobil persis didepan rumahnya terlihat Yoga membuka pintu gerbang rumahnya dengan motor yang telah siap. Segera aku menghentikan mobil lalu menghampirinya " Yoga lo mau kemana?". Lelaki bermata coklat itu pun hanya menoleh sikapnya aneh ia tak menghiraukan panggilanku dan tetap menaiki motornya. 

"Yoga.. ehhh kenapa si lo aneh banget". Tatapan matanya kosong aku tidak tahu apa yang telah terjadi semalam sampai-sampai Yoga seperti ini. "Minggir ka gue mau pergi ada urusan" ia pun tetap pergi sama sekali tak menghiraukan ku.

Aku tak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi ada apa dengan Yoga. Seketika aku terpikir terpikir tentang Jeny mungkin ada hubungannya sikap Yoga dengan pertemuan mereka semalam. 

Yoga sangat cepat melaju dengan motornya aku tak bisa mengikuti kemana ia akan pergi. Kalau dengan kondisi yang seperti ini kami biasanya pergi ke salah satu taman dekat komplek rumahku. Taman itu terlihat biasa namun ada satu yang membuatnya istimewa yaitu bangku taman yang ketika diduduki akan langsung mengarah tepat ke tempat permainan anak-anak. Yoga senang sekali dengan anak kecil jikalau hatinya sedang tidak enak pasti ia senang duduk disana berlama-lama melihat anak-anak bermain. 

Namun sayangnya bangku itu kosong Yoga sama sekali tak terlihat disana. Aku rasa ia memang benar-benar ada urusan yang sangat penting. Mungkin menemui Jeny.. aku tahu kalau Yoga sangat mencintai Jeny semenjak mereka sama-sama di bangku smp. Aku juga tahu kalau selama mereka tak bersama semenjak Jeny memutuskan untuk kuliah di luar negeri Yoga masih terus memikirkannya. Kemudian aku juga tahu kalau perasaan ini tak akan pernah bisa terbalas.

Yoga sahabatku namun aku tak pernah benar sungguh-sungguh meinginkannya untuk selalu menjadi seorang sahabat. Aku ingin ia mencintaiku dengan teramat sangat seperti ia mencintai Jeny. Aku ingin ia selalu menjaga dan menemani ketika aku ditinggal oleh kedua orang tua ku ketika bertugas diluar kota. Aku juga ingin untuk bisa selalu menemaninya disini duduk berdua di bangku taman sambil melihat sekumpulan anak-anak yang bermain.
***

Tak pernah pikiranku serumit ini aku hanya ingin Jeny sadar bahwa kalaupun ada orang yang menunggunya dengan setia itu hanya aku. Didepan rumah Jeny  terlihat pak diro supir Jenny sibuk memasuki barang-barang Jeny kedalam mobil bagaimana tega Jeny membohongi aku.

"Pagi pak.. Jeny ada didalam?". "Ohh ada den masuk saja kedalam".

Aku memasuki rumahnya nampaknya terlihat sepi namun di tengah ruangan bernuansa minimalis seorang wanita sedang duduk di sofa. Aku duduk disampingnya "Kenapa kalau kamu pergi aku gak boleh tahu?". Jeny terlihat sangat kaget mengetahui aku ada disampingnya tiba-tiba saja ia berdiri dan memasukan sesuatu kedalam tasnya. "Yoga kamu kenapa bisa disini?" jawabnya terbata-bata. "Kamu bahkan gak pernah tahu kenapa aku selalu coba ada disamping kamu".

"Yoga maaf aku harus berangkat sekarang" Jeny mencoba mengalihkan semua pembicaraan. "Jen aku bukan pembunuh yang bisa bahayain kamu aku cuma perlu kamu denger" ku halangi langkah Jeny. "Aku gak perlu denger apa-apa dari kamu ga sekarang aku mohon kamu minggir".

Aku menghela nafas "Oke kalau itu mau kamu.. silahkan pergi". Jeny berlalu meninggalkan ku tanpa membiarkan semua penyesalan ini terampuni walaupun hanya sedikit. 

"Yoga kamu mau tahu kenapa semenjak malam itu aku gak ngomong apa-apa lagi sama kamu?" tiba-tiba suara itu bagaikan air segar ditengah hamparan pasir. Aku yang masih membelakangi Jeny kemudian menoleh. 

"Ini.. ini yang bikin aku pengen kamu ngerti kalau gak bisa terus-terusan kamu mencintai aku" jeny menunjukkan selembar kertas.
"Kenapa kamu larang aku mencintai kamu Jen?"
"Ini ga.. gimana bisa aku ngehancurin kebahagiaan wanita yang hatinya lebih besar dibanding aku?"
"Apa si maksud kamu aku gak ngerti?"
"Aku nemuin ini dikaset yang aku pinjem sama kamu waktu dimobil. Waktu sampai rumah aku dengerin dan  
 pas aku buka ada kertas ini ga"

Kubaca selembar kertas ini tertera namanya dibawah akhir tulisan. Dulu Alika memang pernah meminjam kaset ini namun aku tak tahu kalau ia sudah menaruhnya kembali didalam laci mobil. Aku pun tidak tahu kaset apa yang Jeny pinjam semalam dari ku. 

"Ga.. aku mohon kamu pikir baik-baik. Aku belum untuk kamu saat ini. Tapi dia udah punya semuanya buat  
  kamu. Kamu hanya perlu membuka mata kamu lebar-lebar kalau sesuatu yang tulus pasti bakal bisa kamu 
  rasain tapi bukan dari aku."
"Gimana mungkin?"
"Itu cuma kalian yang tahu jawabannya. Dan yang terpenting kamu harus tahu tanpa kamu kasih tahu aku 
 tentang semua perasaan kamu aku udah mengerti ga. Aku ucapin terima kasih sama kamu tapi ada baiknya 
 kamu kasih semuanya ke orang yang tepat."

Kami berpelukan mungkin untuk yang terakhir karena aku tak pernah tahu kapan Jeny akan kembali lagi kesini. "Aku pergi ya ga" perpisahan ini diakhiri dengan kecupan hangat Jeny dikeningku.

No comments:

Post a Comment