Saturday, 27 December 2014

Perjalanan 3 Tahun





Setiap awal ada akhir yang bisa diraih.
Perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Semoga ada akhir yang bisa di banggakan, kelak.
Teruntuk Wanita dan Laki-laki yang cintanya selalu mengiringi setiap langkahku.

Saturday, 13 December 2014

Kisah 8 Tahun


Bermula dari iseng-iseng ikutan lomba dan akhirnya gue memutuskan untuk ikutan. Karena ngeliat tulisan blog yang udah lumayan banyak akhirnya milih untuk nulis kumpulan tulisan yang ada di blog  dengan ditambah satu dua tulisan baru. Ternyata, jreng..jreeng.. dari situ semuanya bermulai. Segala prosesnya dijalanin hingga lahirlah buku ini.

Mungkin kalau ngomongin gimana isi bukunya, gue bisa bilang kalau ini masih jauh dari selayaknya buku. Ada kekurangan itu pasti tapi namanya juga awal selalu ada bahan untuk belajar jadi lebih baik kedepannya. Buat gue ini bukti kalau lo mau, lo usaha dan lo pasti bisa!.

Buku 8 Tahun ini isinya tentang segala sesuatu yang terjadi selama kurang lebih selama 8 tahun ini. Ada hal-hal yang akhirnya bikin gue jadi kaya sekarang ini. Terkadang lo harus berterima kasih sama kekecewaan yang pernah lo dapet di masa lalu karena kalau gak ada itu mungkin lo gak akan tau gimana rasanya bangkit. 
Bukan perihal sebuah penantian yang gue lakukan selama 8 tahun, tapi ini lebih dari itu. Mengenai cara Tuhan kasih tau sama gue kalau akan selalu ada kebaikan dari sekian banyaknya hal yang gak enak. Gue percaya itu!.

Do What You 
Qiqi Nur Indah Sari

8 Tahun


"Apa yang gue tulis tepat satu tahun lalu, hari ini hal itu jadi kenyataan"

                                                                   Judul       : 8 Tahun
                                                                   Penulis    : Qiqi Nur Indah Sari
                                                                   Penerbit  : Bitread
                                                                   Harga     : Rp. 38.340

Monday, 8 December 2014

Hujan di Mimpi



Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah
Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Bedua kita berlari
Semesta bergulir tak kenal arah
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti kenangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan
Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari

Monday, 24 November 2014

Ciwi-ciwi


Yang lain datang dan pergi, yang ini selalu menemani

Tuesday, 19 August 2014

11:32 PM



Ada degupan yang bergerak lebih cepat dari biasanya.
Perihal suatu rasa yang tersimpan dan dijaga terlalu baik oleh sang pemiliknya.
Ada sebuah ketakutan yang hadir didalam isi kepalanya.
Hingga ia pun larut dalam perjalanan yang membawanya cukup lama dalam suatu ruang tertutup.

Pernah tau rasanya mencintai seseorang yang belum pernah kau lihat bola matanya amat sangat dekat dihadapanmu?.

Cinta datang kepada siapa saja yang dikehendakinya, meskipun kita tak pernah benar-benar tahu bagaimana suaranya terdengar berbisik di telingamu.

Aku pernah dengar begini "Apa yang dipikirkan seseorang yang masih mencintai padahal ia tahu tak pernah balas dicintai".
Satu jawabku, Tulus.

Berbahagialah kalian yang telah dilengkapi.
Jaga setiap langkah yang diikuti dengan niat baik.
Karena kau tidak akan pernah tahu siapa yang terluka atas kebahagianmu.
Namun apa yang lebih besar dari sebuah penerimaan, hanya itu yang mampu menopang segala kekecewaan.

Saturday, 26 July 2014

YouniQ






Yummy Yummy Edition
Volume 3

Instagram  : youniq_
Facebook : Youniq

So enjoy, yummy yummy.. Nom 

Wednesday, 2 July 2014

Berjanjilah

"Jangan pernah menyerah hingga tetes darah penghabisan"

Begitu kiranya seharusnya kita berjuang untuk mengejar mimpi-mimpi yang kita miliki. Namun terkadang ada hal-hal yang membuat kita bertanya "apa masih sanggup?" atau "apakah masih pantas?" semua ini diperjuangkan. Rasa pesimis yang terkadang mampir dalam perjalanan hidup kita, itu wajar karena tak mungkin hidup berjalan lurus-lurus saja. Ada begitu banyak godaan yang datang menghampiri untuk sesuatu yang kita inginkan.

Saya pernah menyerah untuk suatu keadaan, dulu.

Berada diposisi merasa menjadi orang yang tak bisa melakukan apa-apa, saya kalah telak dengan yang lain. Saya merasa mereka sudah mencuri start terlebih dahulu dibanding saya dan itu menyebabkan saya tertinggal cukup jauh. Sampai pada akhirnya semua itu saya biarkan berjalan dan nampaknya keadaan masih saya anggap baik-baik saja. Saya ingin menyerah namun saya harus menyelesaikan suatu tanggung jawab ini terlebih dahulu. Karena sekiranya jikalau saya keluar dari zona ini saya pernah berusaha untuk mencobanya.

Terlewat dari masa-masa sulit itu saya mencoba perlahan menarik diri dan menyibukkan dengan hal-hal lain. Saya menemukan kenyamanan ditempat lain dan yang terpenting saya menaruh hati saya pada tempat yang baru saya datangi. Bukan berarti pada yang sebelumnya saya tak pernah melakukannya dengan hati akan tetapi ada sesuatu yang menurut saya lebih baik yang mungkin untuk saya jalani. Ada beberapa pihak yang menerka-nerka tentang saya, ah tau apa mereka tentang saya biarlah ini menjadi keputusan yang akan saya pertanggung jawabkan sendiri.

Akhirnya, saya menyerah untuk suatu keadaan yang benar-benar membuat saya tak bisa lagi bersatu dan berdiri bersama-sama. Saya cenderung orang yang akan lebih baik menarik diri dibanding saya tetap ada disana namun hati ini seperti menolak. Saya hanya ingin jujur untuk setiap apa yang saya lakukan.

Hari ini saya menjadi orang yang ingin lebih jujur menjalani apapun yang saya lakukan. Menjalani sesuatu yang menurut saya itu bisa membantu saya untuk membangun mimpi-mimpi saya. Orang lain tak tahu bagaimana proses dirimu untuk bisa menjadi lebih baik yang mereka ingin tahu adalah dengan apa yang telah kamu lakukan. Berbuatlah sesuatu untuk menolong dirimu menjadi dirimu yang sebenarnya. Jangan pernah menjadi orang lain tetaplah menjadi dirimu yang Allah ciptakan dengan segala kebahagiaan yang ia akan berikan.

Dulu, mungkin saya pernah menyerah. Akan tetapi saya percaya semua hal yang terjadi tidak lain atas ijinNYA dan segala sesuatu yang datang dari Allah akan selalu lebih baik dari apa yang kita rencanakan. Jikalau pernah menjadi ataupun merasa menjadi yang terburuk mulai sekarang jangan pernah menyerah lagi. Mulai sekarang yakinkan dirimu kalau Semesta akan selalu memberikan hal besar jauh dari apa yang kita bayangkan, asalkan kita percaya dan selalu berusaha untuk mencapai itu semua.

Mengutip dari salah satu penyanyi yang selalu terdengar Tulus "Yang Terburuk kelak bisa jadi yang Terbaik".

Saya menulis ini bukan berarti saya adalah orang yang sudah berhasil atau bagaimana, saya hanya ingin membagi sedikit semangat dengan kalian yang mungkin pernah sempat menyerah seperti saya. Berjanjilah mulai sekarang tak akan pernah menyerah lagi untuk sesuatu yang benar-benar ingin kamu perjuangakan.



Best Regards,
Qiqi Nur Indah Sari

Monday, 31 March 2014

Surat Untuk Mantan



"Ada senja yang belum usai" begitu kata mu.

Terbaca sebuah kata yang seketika membuat tangan ini menorehkan balasan dalam kertas.
Sebelum lagu ini mencapai menit terakhirnya aku pun tergerak untuk kembali melihat semua yang telah tersusun rapi didalam kotak ini.

Kotak coklat ini bagaikan roll film yang menyimpan adegan demi adegan yang terekam.
Mereka itu saksi.
Saksi dari sebuah cinta yang tak sempat menjadi KITA.

"Aku dan Kamu itu Kita dengan Cinta" aku ingat betul ucapan hangatmu di kala mendung sedang menghampiri kota yang menjadi tempat kelahiran kami berdua.

Ada sebuah mawar merah yang bunganya sudah kering di kotak coklat ini.
Melihatnya aku menjadi ingat sebuah bangku di salah satu taman kota dekat komplek rumah ku.
Ketika waktu menjadi hal yang mahal bagi Kita untuk bertemu, mendatangi taman itu menjadi hal mudah tanpa harus berpikir lagi kemana kita akan menghabiskan waktu.

Aku ingat mawar ini kau bawa setelah dua minggu kau tak mengunjungi ku.
Pekerjaanmu sebagai laki-laki memang harus lebih giat dikarenakan kelak kau harus menjadi kepala keluarga untuk wanita pilihanmu dan juga anak-anak mu nanti.

Sekarang, mawar ini kering.
Harumnya tak seperti dulu saat pertama kali kau memberinya di taman.
Di antara matahari yang telah mulai sedikit demi sedikit pulang ke rumahnya kau memberinya sambil berkata "Jaga mawar ini seperti kau menjaga rasa sampai hari ini".

Untuk seorang laki-laki, Kamu.

Kamu yang dahulu selalu menjadi sisi lain dari Aku.
Kamu yang dahulu selalu menjadi teman penikmat senja bersama ku.
Kamu yang dahulu selalu mendampingi ku di bangku taman itu.
Kamu yang dahulu selalu menjadi Cinta di dalam "Kita" yang terus ku doakan.

Untuk seorang laki-laki, Kamu.

Kamu yang sekarang tak lagi menjadi bagian dari sisi kehidupan ku.
Kamu yang sekarang tak lagi menjadi teman laki-laki penikmat senja ku.
Kamu yang sekarang tak lagi mengunjungi bangku taman itu.
Kamu yang sekarang tak lagi ku sebut dalam doa ku untuk bisa menjadi "Kita".

"Senja yang belum usai silahkan kau selesaikan dengan wanita pilihanmu yang bukan aku, nanti"
- Teman penikmat senjamu, dulu

Akhirnya aku melipat kertas surat ini dan memasukkannya ke dalam amplop merah.



Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara

Wednesday, 19 March 2014

Bersama Hujan

Kemudian matanya seperti ingin menerkam tubuhku yang mulai digelayuti dengan rasa dingin yang mengepung disekujur tubuhku. Ini lebih menakutkan dari mahkluk yang mungkin tak terlihat disekeliling kami saat ini. Sudut kota ini sudah semakin sepi dan tak terlalu terdengar hingar bingar suara kendaraan yang berlalu-lalang. Sementara itu hujan turun semakin deras menghujani kota kelahiran ayahku yang pada akhirnya karena ayah juga aku berada disini.

Bandung selalu semakin terasa syahdu ketika hujan turun. Semakin terasa lebih hangat mungkin jika hujan-hujan seperti ini kau sedang bersama seseorang (bukan) kekasihmu. Mungkin aku sedang merasakan kehangatan itu. Kedua tangannya mulai menggenggam kedua tanganku, sela-sela jarinya dimasukkan kedalam sela-sela jariku. Kami pun saling menggenggam.

Aku tak mau memikirkan hal apapun yang lain selain niatnya yang hanya untuk mencoba meminimalisir rasa dinginku. Kami harus berteduh disuatu mini market yang telah tutup semenjak jam 10 malam tadi. Semakin deras hujan itu turun semakin deras pula ribuan getaran yang muncul di dadaku.

"Ami.." ia memanggilku dengan lembutnya.

Aku hanya mengarahkan mataku ke arah matanya. Entah perasaan seperti apa yang sedang aku rasakan saat ini. Rambutnya yang basah juga mata sayunya yang terlihat semakin sayu karena air yang belum sempat terusap diwajahnya seakan memaksa aku untuk menelisik lebih dalam.

"Ami.. sampai saat ini aku tak pernah tahu jawabannya, mengapa rasa sebagai teman tak pernah benar-benar hanya sebagai seorang teman. Terlebih kepadamu" lalu ia semakin erat menggenggam jemariku.

Terlambat

Lebih baik datang terlambat daripada tidak datang sama sekali begitu kira-kira kalimat yang sering diucapkan jika kita terlambat untuk suatu hal.
Namun bagiku semua keterlambatan itu sekarang sudah ada ditempatnya.
Aku mencoba.
Setidaknya itu pembelaanku.

Mencoba itu lebih baik ketimbang terus memikirkan "bagaimana-bagaimana" yang sepertinya tidak seburuk yang dipikirkan.

Ya, mungkin aku terlambat untuk mendapatkan apa yang aku mau.
Mendapatkan setengah hatimu saja nampaknya itu mustahil untuk saat ini.
Kau telah terlebih dahulu dibiarkan Tuhan memilih yang lain.

Asalkan kamu tahu.
Ada satu hal yang benar-benar membuat aku yakin kalau mungkin ini adalah yang terbaik.
Adalah ketika semua keraguanku menjadi tidak ragu untuk akhirnya ku katakan kepadamu.
Kemudian aku harus menerima kenyataan bahwa kau telah dimiliki hati yang lain.

Mungkin itu cara Semesta membuat isyarat bahwa memang untuk saat ini kau belum di ijinkan untuk mendekat ke arahku.

Itu baik, menurutNya.
Dan aku menerima semua keterlambatan ini.
Sambil terus berharap bahwa akan ada yang selalu datang untuk mengganti yang telah lalu.

Monday, 17 March 2014

Kumala


            Sore ini tepat disebuah coffee shop bernama Backyard Coffee di daerah bintaro sektor 7  yang bernuansa minimalis dengan sofa dan kursi-kursi karyu serta foto-foto dan cd yang terpajang di dinding membuat aku semakin menikmati detik demi detik suasana ditempat ini. Alunan lagu kesukaan yang selalu diputar ditempat ini menambah rasa nyaman untuk terus berlama-lama disini. Coffee shop ini milik salah satu band Indonesia Maliq & Dessentials. Band tersebut adalah band favorit aku dengan Kumala dan itu sebabnya aku memutuskan untuk bertemu di tempat ini.
Jam tanganku telah menunjukkan pukul 4 sore namun belum juga aku melihatnya, sambil menikmati lychee tea yang telah aku pesan  mataku terus bergerak kesana kemari memastikan dirinya yang seharusnya telah datang. Ditempat ini hanya ada aku dan dua orang yang sepertinya sedang meeting. Suasana hening walaupun sesekali terdengar kedua orang itu sedang sibuk memastikan kapan tanggal yang tepat untuk memulai event yang akan mereka laksanakan. Tiba-tiba kulihat  mobil berwarna putih berhenti didepan backyard coffee, mobil itu tak asing bagi ku benar saja tak lama seorang wanita berambut hitam sebahu berkaos polos berwarna putih dengan paduan jeans hitam dan flatshoes berwarna merah keluar dari mobil itu. Namanya Kumala, seperti biasa penampilannya selalu saja membuat aku terpesona akan kecantikannya. Kumala tak hanya cantik ia juga pintar semenjak smp hingga sma ia selalu mendapatkan gelar juara umum juga kepopulerannya disekolah karena aktif  di ekskul paduan suara. 

“Maaf al aku terlambat” katanya sambil menjabat tanganku dan mencium pipi kiri dan kanan ku. “Iya tak apa belum selama aku menantimu” tambahku. Kumala hanya tersenyum mendengar perkataanku barusan “ahhh ini lagu favorit ku” ucap Kumala kurasa ia ingin mengalihkan pembicaraan, pas sekali memang kedatangannya disambut dengan lagu untitled dari Maliq & Dessentials.
 “Iya aku ingat kau menyanyikannya dengan merdu sewaktu pentas seni sma dulu” lagi-lagi Kumala hanya tersenyum bibirnya yang tipis dibalut dengan lipstick berwarna pink soft membuatnya semakin terlihat sangat manis.
“Kamu hanya pesan ini?“ tanya Kumala padaku. “Aku menunggumu bukankah kita selalu memesannya bersamaan?” selalu saja aku ingin menikmati apapun bersamanya. “Ahhhh kamu ini masih saja begitu”. Lalu kami pun memesan dua cangkir kopi, aku memesan cappucinno dan Kumala memesan hot chocolate.
Detik demi detik kami habiskan untuk menikmati secangkir kopi sekaligus membahas semua yang telah kita lalui, aku tanpa Kumala dan Kumala tanpa aku. Ditengah perbincangan kami tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon dari handphone Kumala.
“Hallo, ada apa?” …………… Kumala mengangkatnya.
Sekitar 10 menit Kumala menerima telepon entah dengan siapa ia berbicara yang aku tangkap ia memastikan akan tiba ditempat yang telah dijanjikan 1 jam lagi.
“Altaf, maaf aku harus pergi ada telepon mendadak, gak apa-apa kan kalau aku tinggal?” Kumala coba menerangkannya dengan penuh kelembutan. “Ohh oke, santai aja” sahut ku sambil melemparkan senyum. Aku tak bertanya apa yang membuatnya harus tiba-tiba meninggalkan pertemuan ini.
“Aku pamit ya al, next time kita atur pertemuan lagi” ucap Kumala sambil masuk ke dalam mobilnya. Aku hanya memandangi dari samping mobilnya sambil terus tersenyum pertanda aku sangat berterima kasih atas kehadirannya hari ini. Walaupun ia meninggalkan separuh pertemuan kami.
***

Hari ini aku berniat untuk pergi ke salah satu florist untuk membeli bunga dan  di kirimkan kepada Kumala. Jam dinding ku telah berderu kencang itu berarti waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Aku segera bersiap-siap, siang ini di luar hujan aku memutuskan untuk memakai sweater berwarna coklat polos yang tergantung di lemari.

“Ma, Altaf pergi dulu yaaaa..” sambil mencium kening mama dan mengambil sepotong roti di meja. “Jangan pulang sore-sore ya hari ini papa pulang nanti malam kita makan diluar” mama berbisik di telinga ku. “Aduuhh maa geli ihhh pake bisik-bisik segala, iyaa bentar kok cuma ke toko bunga habis itu pulang” sambil berlalu aku menuju garasi mobil. Hujan sedang sering menghamipri kota kami entah kenapa mungkin karena semua penghuninya sedang merindukan basuhan basah yang menghangatkan suasana.
Setelah sampai di florist aku segera memilih bunga yang akan aku kirim kepada Kumala. “Mas mau cari bunga apa?” Tanya salah seorang penjaga florist itu kepada ku. “Emmm… aku juga gak tau kira-kira kamu bisa bantu gak?” jawab ku. “Untuk diberikan kepada siapa? Teman? mama? Atau  pacar ?” penjaga itu bertanya lagi. “Buat seseorang dibilang pacar juga bukan..” ujar ku sambil tertawa.

“Pasti masih pedekate ya mas, kira-kira orangnya seperti apa?” “orangnya cantik, lembut, sopan, rambutnya bagus, suaranya juga merdu, matanya coklat……” “mas..mas..” tiba-tiba saja tangan penjaga itu menepuk-nepuk bahuku. “ohhh maaf jadi ngelamun” “kayaknya mas nya suka banget yah sama mbak nya sampe bikin ngelamun gitu” sambil tertawa dan  membuat matanya semakin sipit.
Penjaga florist itu segera menunjukkan beberapa mawar dengan macam warna yang berbeda. “Kalau dengar dari gambaran mas tentang mbaknya kayaknya mawar warna merah muda ini cocok untuk dia mas”. Mawar berwarna merah muda itu melambangkan kebahagiaan dan kelembutan sama seperti Kumala ia wanita yang lembut serta selalu membuat aku merasa bahagia karena telah dipertemukan dengannya.
“Iya mbak saya mau yang ini ya, nanti dikirim ya mbak alamatnya ini udah aku tulis terus jangan lupa kartu ucapan ini juga ditaruh di bunganya” sambil menujukkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah Kumala. Penjaga florist itu pun segera merangkai bungai yang telah aku pesan matanya terlihat sangat sipit ketika wajahnya serius merangkai sebuket bunga mawar untuk Kumala.
Akhirnya aku meninggalkan florist itu dan pulang kerumah. Aku harap Kumala bisa suka dengan bunga yang aku kirimkan. Sudah bisa ku bayangkan bibir tipisnya merekah dengan indah seindah bunga yang baru mekar.
***
Keesokan harinya aku menerima sebuah pesan singkat dari serorang wanita yang selalu saja membuatku tersenyum simpul ketika mendengar namanya. Ia ingin bertemu denganku, nampaknya bunga yang aku kirimkan kemarin telah diterimanya. Hari ini dia mengajakku bertemu di Backyard Coffee lagi. Sekitar jam 3 sore aku telah bersiap-siap menuju tempat yang akan mempertemukan kami berdua.
Sesampainya disana mobil putih telah terparkir didepan coffee shop favorit kami berdua ini. Aku pun segera masuk kedalam dan tentu saja disuatu sudut perempuan cantik itu telah menungguku. “Hei maaf kali ini kau yang harus menunggu” aku mencium pipi kanan dan kirinya tubuhnya wangi aroma parfum strawberry.
            “Altaf sejak kapan kamu suka kirimi aku bunga?” ia tersenyum. Kumala andai kamu tahu bunga itu ku beri untukmu sebagai tanda terima kasihku karena kau kembali ke kota ini. “ Thank you so much al, aku suka sekali warna bunganya” ia menatap dalam mataku. Aku bersyukur Kumala datang kembali ke kota ini setelah lulus sma dan akhirnya ia melanjutkan kuliah di Surabaya aku tidak lagi bertemu dengannya.

“Jadi kamu apa kabar al? kerjaan gimana? Terus keluarga sehat-sehat kan?”
“Nanyanya satu-satu dong cantik”
Kumala tertawa “Al..al masih aja kamu”. Sewaktu sekolah dulu aku sering memanggil Kumala dengan sebutan “Cantik”.
“Aku baik, mama sama papa juga Alhamdulillah sehat, kerjaan juga lancar cuma hati aku aja yang gak lancar mal semenjak ditinggal kamu”.
“Al.. kamu ini yaaa” ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu gimana jadinya, udah pasti kerja di Jakarta?’
“Iyaa aku di pindahin kesini al, seneng si karena bisa tinggal bareng sama keluarga lagi tapi kadang masih kangen juga sama Surabaya”
“Kangen sama kotanya apa ada yang dikangenin disana?”
“Banyaaak..yang pasti aku bakal kangen sama temen-temen, suasana Surabaya, makanannya, ahhh pokoknya semuanya”
“Tapi apa kamu gak kangen sama yang nunggu kamu di Jakarta?” aku memotong pembicaraan.

Kumala tak mengubris pertanyaanku ia hanya tersenyum dan hanya terus menikmati secangkir kopi yang dipesannya. Kemudian aku teringat akan sebuah pernyataanku dahulu sebelum ia pergi ke Surabaya. Aku berpesan padanya jikalau ia kembali akan ada yang selalu setia menantinya. Ku penuhi janjiku sampai akhirnya ia kembali ke Jakarta tak pernah aku menoleh pada wanita yang bahkan lebih cantik dari Kumala. Aku ini siapa untuknya kiranya tak penting bagiku menurutku aku janjikan dirikulah yang akan siap untuk direpotkan olehnya sudah menjadi kebahagiaanku. Karena dengan itu aku merasa dibutuhkan walaupun hanya berlandaskan rasa terima kasih.
            Semua gambar yang terpajang di dinding nampaknya tahu bahwa aku sangat menantikan hari ini. Hari dimana aku duduk berdua dengannya sambil berbincang-bincang dan tanpa ada yang menyuruhnya untuk lagi meninggalkan  pertemuan kami. Alunan lagu dan nyanyian kecil dari Kumala yang mengikuti lagu-lagu yang terdengar serasa lilin ditengah kegelapan.
Dering suara panggilan masuk….
Aku menerima telepon yang ternyata dari rekan kerjaku.

“Dari siapa? Kedengerannya suara cewek al? pacar ya?”
Aku setengah tertawa “sejak kapan ada yang gantiin kamu disini”.
Kumala terdiam. Ia sedikit menarik napas “Al kalaupun menurut kamu ga ada yang gantiin aku ditempat kamu tapi akan ada yang gantiin kamu ditempatku.”
Aku terkaget mendengar ucapan Kumala barusan “Ya itu kamu bukan aku Kumala”.
Wanita yang ada didepanku kini hanya mengaduk-ngaduk secangkir kopi miliknya entah apa yang ada dipikirannya.
“Altaf.. kalau ada satu nama seorang sahabat yang begitu baik disepanjang hidup aku itu cuma kamu.”
“Aku mau kamu lebih dari sekedar sahabatku cantik” Balasku.
            Kemudian hening untuk beberapa saat diantara kami. Kumala terlihat memencet nomer telepon aku tak tahu siapa yang sedang ingin ia hubungi.
“Namanya Bayu dia pacarku” Kumala memberikan ponselnya kepadaku.
            Aku mengambil ponselnya dan mematikan sambungannya “Kamu gak perlu kenalin siapapun”.
“Al tapi kamu gak bisa terus-terusan nunggu aku..kamu..”
“Kamu apa? Kamu mau aku cari pacar juga? Kumala dari dulu aku simpen perasaan ini baik-baik cuma buat kamu. Apa kamu pikir baru kali ini aku tau kamu punya pacar?”
            Matanya tak menatapku ia seperti ingin menepis segala perkataan yang akan aku ucapkan kepadanya.
“Kenapa si dua orang cowok sama cewek yang bersahabat gak bisa cuma punya perasaan sebagai sahabat aja dan gak lebih?.”
“Kamu tanya itu sama siapa? Sama aku? Gak ada yang pernah tau dan gak aka ada yang bisa menghalangi ketika cinta itu datang mal. Kalaupun aku bisa milih aku gak akan milih kamu yang jelas-jelas emang dari awal kita sahabatan dulu hanya anggap aku sebagai sahabat.”
“Al..cukup. Aku mau pulang sekarang” Kumala membereskan isi tasnya.
            Aku menahannya pergi “Duduk sebentar disini Kumala aku mau kamu denger semuanya, karena aku gak tau setelah kamu pergi dari sini aku masih bisa ketemu kamu lagi atau enggak.”

            Air matanya perlahan mulai jatuh entah apa yang membuatnya menangis, mungkin ia kasihan melihat seorang laki-laki sedang mengemis cinta kepadanya. Pengemis cinta yang menahun menaruh harap akan cintanya.
“Kumala, tadi kamu bilang aku adalah sahabatmu yang terbaik disepanjang hidupmu. Alasanmu membuatku semakin yakin bahwa hanya aku yang terbaik untukmu. Jikalau ada yang lain dihatimu mungkin hanya di suatu sudut bukan dibagian ruangnya. Aku akan biarkan kau menjalin hubungan cinta dengan siapapun. Aku hanya akan melihatmu dari tempatku dan tak akan aku mengusikmu.”
            Kumala semakin tak bisa menahan air matanya aku tak pernah bisa melihatnya menangis seperti ini.
“Kamu menaruh cinta yang salah al” ucap Kumala sambil mengusap air matanya.
“Gak ada cinta yang salah Kumala hanya keadaan dan waktu yang terkadang membuatnya terlihat salah. Gak ada yang bisa menyalahkan orang jatuh cinta karena siapapun dia gak ada yang bisa menahannya untuk datang.”
            Aku berpindah tempat dan duduk disamping Kumala “Kumala aku hanya ingin kau tahu bahwa aku yang akan kau cari ketika semuanya sudah berada di waktu yang tepat. Kamu seseorang yang layak untuk aku tunggu karena cinta ini tak pernah salah untuk aku tempatkan kepada hatimu.”
            Kumala tak mengucapkan sepatah kata apapun ia hanya memelukku sangat erat inilah hal yang terberat untukku. Pelukan erat ini menjadi pukulan bagiku bahwa tak bisa ia ku miliki untuk saat ini akan banyak hari dan waktu yang harus aku relakan untuk melihatnya dengan orang lain.
            “Cintamu memang tak pernah salah Al.. aku yang salah..” sambil tersedu-sedu ia mengucapnya.
Kumala…


Wednesday, 12 March 2014

Ada Hari Di Bulan Februari

Dari sekian banyak hari yang terlewati ini mungkin menjadi momen yang tak akan pernah ku lupakan.
Cerita yang akan menjadi cerita.

Satu hari di bulan Februari..
Tanggal yang persis sama seperti angka ketika anak-anak remaja kebanyakan membuat pesta pada hari spesialnya itu.
Angka itu di bulan februari menjadi hari yang ditunggu oleh seorang Tuan yang tahun ini berumur sama dengan tempat pemutaran film.

Jauh-jauh hari aku sudah menandai hari itu di kalender.
Bahkan sempat aku berpikir untuk menghadiahkan apa kepadamu?
Ahhh.. hadiah
Sudahlah lupakan tentang hadiah.

Apa yang harus aku harap dari sekedar hadiah yang akan ku berikan.
Karena selama ini perasaanku saja tak pernah kau hadiahi apa-apa bukan?

Apalah aku ini selalu meminta untuk hanya diberi kesempatan namun masih sering berharap lebih.

Tuan..
Kamu tau?

Hari setelah hari bahagiamu terlewat dengan leluasanya aku mengetik kata-kata diponselku untuk ku kirimkan kepadamu.
Hanya ucapan dan doa sederhana yang bisa ku berikan.

Bukan hanya kamu saja yang berbahagia karena banyak orang yang mendoakanmu ketika hari ulang tahunmu.
Tapi aku juga, Tuan.

Aku bahagia dengan ucapan terima kasih yang kau katakan.

Sesederhana itu aku dibahagiakanmu.
Ya, sesederhana itu.

Aku sampai disuatu titik aku tak bisa lagi menantimu.
Bukan aku tak sanggup lagi mencintaimu.
Aku hanya ingin menolong diriku sendiri.

 Mungkin jika ada cinta aku akan tertolong.
Tapi sayangnya selama ini tak pernah ada cinta diantara penantianku.

Cinta itu dua sisi.
Keduanya saling menguatkan dan memberi.
Jika hanya ada satu, yang satunya lagi tertatih untuk berjalan sendiri.
Dan aku tak ingin terus seperti itu.

Setelah pergolakan panjang untuk mengambil keputusan, akhirnya aku berani memutuskan.
Aku memutuskan untuk meledakkan bom atom yang selama ini menunggu untuk diledakkan.

Tuan.. Aku mencintaimu
Itu yang sebenarnya ingin aku katakan dengan mulutku sendiri.
Sebagai ucapan terima kasih karena kamu semua tulisan ini tertulis dan dibaca.

Tapi apa daya, aku menuliskannya dengan cara yang lain.
Cara yang setidaknya bisa kau terima.

Semua rasa yang terpendam selama hampir 8 tahun ku rampungkan dalam hari itu.

Tuan, terima kasih atas setiap jawabanmu.
Aku lega.

Ada hati yang harus kau jaga.
Aku mengerti.
Jaga perempuanmu itu, Tuan.

Kelak jika aku tau kau telah memilih, aku turut berbahagia dan mendoakanmu.

Aku disini, hari ini berjanji untuk membahagiakan diriku sendiri.
Bahagia dengan tidak lagi menunggumu.
Melainkan bahagia dengan menggantikanmu dengan Tuan yang lebih baik.

Wednesday, 19 February 2014

Setahun Lalu




Setahun lalu aku baru saja mencoba menepis "bagaimana,bagaimana, bagaimana" dengan jawaban yang tak akan ku dengar dengan pasti
Setahun lalu terdengar begitu lampau namun ternyata terasa sangat sebentar
Setahun lalu umur mu masih belum memasuki usia seperti tempat pertunjukan film

Setahun lalu..

Itu berarti tahun ini angkamu bertambah satu dan angka menungguku pun ikut bertambah
Sungguh.. Waktu sangat cepat bergulir

Setahun lalu..

Aku tak memberi nama dari pesan yang aku kirim

Setahun lalu

Masih sama rasanya seperti tahun sekarang...

Monday, 13 January 2014

20th



Thank you..

Sebulan

Dimulai dari selesainya masa semester 5 yang berlangsung dengan adanya program pemadatan dan setelah itu kami harus segera mempersiapkan untuk Praktek Kerja Lapangan (PKL). Sempet gak tau mau netepin tujuan buat pkl dimana walaupun udah sempet tanya-tanya sama kaka gue sendiri. Tapi, ya gitu bingung deh pokoknya. Waktu itu gue sempet mikir "yaudahlah dapet seadanya" (saat itu). Tapi kemudian gue menetapkan untuk milih salah satu perusahaan air line domestik. Setelah itu gue pun sudah merasa tinggal nunggu kepastian aja walaupun sebenernya pasti bakal ada aja ini itu yang mengganggu. Bener aja karena satu alasan pkl gue ditempat itu gak bisa langsung untuk periode di bulan Desember dimana kegiatan pkl di mulai. Untuk bisa pkl disana harus nunggu sampe bulan Maret (katanya). Dari situ gue mulai kepikiran "yaudahlah dimana aja asal baik". Mencoba pasrah tapi tetep nuntut..hahhahaha

Ketika itu juga gue udah males buat nentuin mau dimana lagi. Sampai pada akhirnya suatu hari sehabis kita acara outbound yang termasuk dari program pembekalan pkl, dosen gue yang ngurusin kita-kita ini mau pkl dimana menawarkan suatu tempat. Sebutlah perusahaan itu Puninar MSE tempat itu menjadi tawaran disaat gue udah gak kepikiran mau pkl dimana lagi. Akhirnya gue pun meng'iya'kan dan mencoba buat dateng keesokan harinya buat interview. Serba dadakan tapi alhamdulillah berjalan lancar semuanya. Hari senin tanggal 2 Desember gue pun mulai bisa pkl di tempat itu. 

Oh iya tempat pkl gue ini bertempat di Alam sutera untuk Head Office nya dan gue kebagian dapet disini sementara temen gue yang lainnya di tempatin di kantor cabangnya di Soewarna, Soekarno Hatta. Alhamdulillah banget tempatnya deket dari rumah, dan hari pertama sampai satu bulan semuanya berjalan menyenangkan. Gue ngerasa dapet tempat yang baik banget dan mungkin ini salah satu hikmah dari terpendingnya di tempat pkl yang awal. Selama sebulan kenal sama pegawai ataupun bos disana yang semuanya baik-baik. Gue ngerasa sangat di hargai sebagai anak pkl dan ini yang bikin gue bersyukur banget. Selama sebulan ngerasain pkl yang bikin gue selalu semangat buat dateng tiap harinya, psssttt fee nya juga lumayan buat jajan-jajan..hehehhe

Ahhh sebulan sudah berlalu untuk bulan berikutnya gue harus melanjutkan pkl di kantor cabangnya di Soewarna karena kerjaan lebih banyak disana. Harus tetep semangat karena berarti gue dikasih kesempatan dua kali buat mencoba tempat baru. Ilmu dan pengalaman yang didapet juga akan semakin banyak (insyaAllah). Gue cuma mau berterima kasih untuk sebulannya di Head Office Puninar MSE, karena disana gue udah dikasi banyak kesempatan, ilmu dan pengalaman yang semoga bisa jadi bekal buat lebih baik lagi. 

Semangat....

Wednesday, 1 January 2014

De-Javu

Tiga tahun sudah semuanya berjalan.

Awal yang sangat sulit namun akan ku buktikan bahwa cinta adalah sesuatu yang harusnya akan selalu membuatmu bahagia. Jikalau di masa lalu kau pernah dikecewakan aku harap masih ada setitik senyum yang sanggup kau simpulkan untuk orang disekitarmu.

*Suara telepon berdering*

"Kenapa lagi?"

Untuk beberapa saat laki-laki yang berdiri di sebelahku terdiam, nampaknya ia hanya mendengarkan.

Ia menghela nafas kemudian mematikan ponselnya. Wajahnya sangat tak bersahabat.

"Gak sopan ngeliatin orang kaya gitu" celetuk laki-laki itu.

Aku baru tersadar bahwa sedari tadi aku memperhatikannya. Aku menggeser badanku dan menyisakan ruang yang masih bisa satu orang duduki.

Lelaki itu kemudian duduk, ponselnya masih berbunyi namun nampaknya ia enggan untuk mengangkatnya. Suara ponselnya masih terus berbunyi.

"Mau ngapain lagi si" katanya sambil mematikan ponselnya.

Lagi-lagi aku memperhatikan semua gerak-geriknya "Bisa gak ngeliatnya biasa aja". "Masnya lagi disamping saya, ya wajar dong kalau saya ngeliatin mas".
Ia tak memperdulikan jawabanku mukanya datar.

Sudah hampir 15 menit kami disini, di tempat pemberhentian bus (seharusnya).
"Lo nungguin apa?"

"Gak punya mulut ya?"

Aku menoleh "Lo nanya sama gue?".
"Cuma ada lo sama gue doang disini masa iya gue nanya sama tiang"
"Oh kirain lo lagi ngangkat telpon, Lo sendiri nungguin apa?"
"Gue nanya malah balik nanya"

Aku menutup bukuku dan memasukkannya ke dalam tas "Panas banget jadi neduh dulu deh disini".
Ia menoleh "Baru tau ada orang lagi panas-panasnya terus neduh di halte".
"Dan baru tau juga ada orang yang kayaknya lagi berantem sama pacarnya ikutan neduh di halte juga bareng gue".

Aku berdiri dan meninggalkan halte itu.

***

"Buu.. kok kotak susunya belum diambil? Dirga gak dateng hari ini?" setelah sampai rumah aku duduk di ruang tengah yang berukuran tidak terlalu besar dengan ruangan berwarna putih semakin teduh dengan bunga mawar diatas mejanya. Ibu berjalan ke luar dan menengok kotak susu yang ternyata memang belum diambil sedari pagi.
"Oh iyaa..ya ibu baru sadar kalau nak Dirga gak kesini".

Dirga adalah seorang pengantar susu yang setiap pagi mengantarkannya ke rumah-rumah warga komplek sini. Apa mungkin hari ini ia sedang sakit atau ada keperluan lain sehingga tak ada susu yang diantarkannya. 
"Ra, kamu ke supermarket ya beli susu disana aja deh ibu mau bikin macaroni" sambil memberikan beberapa catatan bahan yang akan dibeli.

Senja hari ini masih sama seperti senja-senja tahun kemarin. Dulu mungkin senja adalah tanda bahwa kami harus menyudahi permainan basket di lapangan rumah Wardhana. Aku tersenyum, senyum ini ibarat penghiburan. Rindu rasanya bermain basket seperti dulu lagi tapi ku rasa keadaan tidak lagi bisa seperti dulu. Masa lalu biarlah menjadi kenangan yang akan membuat kita lebih berharga di masa sekarang. 

Kayuhanku terhenti pada satu titik, ku lihat seorang pemuda yang biasa ku lihat setiap pagi di sebuah apotek. Aku menghampirinya "Dirgaaaa..".
Ku parkirkan sepedaku lalu menghampirinya..

"Kamu sakit?"
"Masuk angin kayaknya" ia tertawa.
"Kok ketawa? emang ada yang lucu?" tanyaku lagi.
"Mbak yang lucu" tatap ku heran.
"Ohh.. enggak mbak. Maksudnya ini penyakit orang kampung biasa masuk angin gitu" ia tertawa lagi.


"Ahh nyesel saya nyamperin kamu, yaudah cepet sembuh ya biar saya gak perlu beli susu ke supermarket sore-sore begini"
"Mbak mau ke supermarket? ayo saya antar?"
"Kamu mau nganterin saya? kamu katanya sakit?"
"Udah sembuh"
"Dirga kamu mau becandain saya ya? oh iya sepeda kamu mana? kok kayaknya saya gak liat sepeda biru kamu?"
"Biru udah gak ada mbak, kalau gitu saya pamit ya mbak" Dirga berjalan ia tak lagi menggunakan sepedanya.

Aku hanya memandanginya sepanjang ia berjalan sesaat aku lupa dengan tugasku untuk membeli susu.

Sesampainya dirumah aku memberitahu ibu kalau aku bertemu Dirga ketika perjalanan ke supermarket. Aku menceritakan kalau Dirga bilang sepedanya sudah tidak ada. "Kamu kangen kalau Dirga gak ada sepeda trus dia gak bisa nganter susu ke sini?" tanya ibu sambil membereskan bahan-bahan yang baru aku beli tadi. "Bukannya gitu bu tapi kan kasian kalau dia harus gak kerja, malah katanya dia juga lagi sakit" jawabku.

"Yasudah besok lagi kita tunggu Dirga sekarang kamu mandi terus bantuin ibu nih bikin macaroni, pesenan buat nanti malem"
"Nanti malem? siapa yang pesen bu?"
"Bu Ana yang pesenin tapi buat temen anaknya katanya, nanti malem orangnya kesini"

***

Suara bel pintu....

Jam menunjukkan pukul 22:00 mungkin orang yang akan mengambil pesanan macaroni schottel. Semua pesanan sudah siap tapi yang jadi pertanyaan mengapa ada orang yang memesan untuk dimakan malam-malam sekali?.

Ku bukakan pintu..
Dari bawah pria ini memakai sepatu converse berwarna abu-abu dengan jeans dan memakai jaket berwarna coklat. Seketika ku lihat wajahnya "Loohh?". "Kenapa kok kaget banget? gue bukan penagih utang" reaksinya santai.
"Buu nih orang yang mau ambil macaroninya udah dateng" ku tinggalkan ia yang masih berdiri di depan pintu.

Ku teruskan membaca majalah sambil memakan keripik kentang yang tersedia di meja ruang tengah. Ia masih terus berdiri sambil membunyikan kakinya ke lantai. "Ada tamu nih lo gak mempersilahkan gue duduk gitu?".

"Ehhh ini pasti nak Adit yang mau ngambil macaroni itu yaah?" ibu yang sedari tadi sedang shalat langsung menemui lelaki yang baru ku ketahui namanya adalah Adit. Aku terdiam seperti De-javu mendengar nama itu. 

"Ini pesanannya, dua kan?" ibu memberikan macaroni yang telah di tempatkan rapi. "Iya bu terima kasih ya ini uangnya" ia memberikan uang. "Iya sama-sama ya nak Adit kalau ada rasa yang kurang-kurang nanti boleh disampein ya". "Saya cobain dulu deh tapi kalau dari harumnya si enak kayaknya bu".

"Oh iya bu, saya mau ketemu sama anak ibu itu siapa namanya?" ia berbisik pada ibu. "Ohh..Rara" jawab ibu. "Ahh iyaa, boleh bu?" bisiknya lagi. "Kamu kenal sama Rara?". "Belum mangkanya ini baru mau kenalan" ujarnya. 

Ibu menghampiriku yang masih asik membaca majalah "dia mau kenalan sama kamu katanya". Setelah menyampaikan ibu segera masuk ke dalam. "Rumah lo disini ternyata, dunia sempit banget" perlahan lelaki itu memasuk rumahku. "Gak ada yang nyuruh lo masuk" aku coba menghalangi langkah kakinya. Kemudian ia duduk di sebelahku "Gue Adit" ia menjulurkan tangannya. 

Aku menatapnya dalam-dalam ketika ia menyebutkan namanya. "Woii bengong, kebiasaan lo suka ngeliatin gue begitu hati-hati ntar naksir". Aku melemparkan bantal ke arahnya "Rese banget sih bikin kaget aja, gue..". "Biar gue tebak nama lo Rara kan?" ia mendekatkan kepalanya ke arahku. Aku tak bergeming "dari mana lo tau, lo bukan dukun kan?". "Santai muka lo gak usah culun begitu, tadi gue nanya nyokap lo waktu di depan pintu tadi" jelasnya. 

"Temenin gue didepan situ dong, gue liat tadi ada bangku taman gitu viewnya asik" ia menarik ke arah taman. Adit menaruh macaroni yang ia pesan dari ibu kemudian membuka keduanya. Aku tak mengerti pikiran lelaki ini, ia memesan dua macaroni tapi kenapa ia buka disini. "Temenin gue makan ini" ia memberikan sendok yang memang sudah ada dalam kotak macaroni yang dibuat ibu. "Apaa? lo gila kali ya gue yang bikin itu juga tadi , masa gue makan juga".

"Apa bedanya?"
"Ya kalau gue bikin buat sendiri ya pasti gue makan, tapi kan tadi buatnya emang buat pesenan pelanggan"
"Yaudah sederhanain aja, anggap gue temen lo yang ngajak lo buat makan macaroni ini bareng dan lo ga tau kalau macaroni ini ibu lo yang buat, beres. Sekarang makan".

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Cerita ini adalah sebuah lanjutan dari cerita yang pernah saya buat. Jika kalian ingin membacanya ada tiga cerita sebelumnya yang saya tulis, bisa lihat di sini :

" Rara "
" Surat yang Aku Baca "
" Nomor Punggung 8 "

Selamat membaca...