Wednesday, 12 March 2014

Ada Hari Di Bulan Februari

Dari sekian banyak hari yang terlewati ini mungkin menjadi momen yang tak akan pernah ku lupakan.
Cerita yang akan menjadi cerita.

Satu hari di bulan Februari..
Tanggal yang persis sama seperti angka ketika anak-anak remaja kebanyakan membuat pesta pada hari spesialnya itu.
Angka itu di bulan februari menjadi hari yang ditunggu oleh seorang Tuan yang tahun ini berumur sama dengan tempat pemutaran film.

Jauh-jauh hari aku sudah menandai hari itu di kalender.
Bahkan sempat aku berpikir untuk menghadiahkan apa kepadamu?
Ahhh.. hadiah
Sudahlah lupakan tentang hadiah.

Apa yang harus aku harap dari sekedar hadiah yang akan ku berikan.
Karena selama ini perasaanku saja tak pernah kau hadiahi apa-apa bukan?

Apalah aku ini selalu meminta untuk hanya diberi kesempatan namun masih sering berharap lebih.

Tuan..
Kamu tau?

Hari setelah hari bahagiamu terlewat dengan leluasanya aku mengetik kata-kata diponselku untuk ku kirimkan kepadamu.
Hanya ucapan dan doa sederhana yang bisa ku berikan.

Bukan hanya kamu saja yang berbahagia karena banyak orang yang mendoakanmu ketika hari ulang tahunmu.
Tapi aku juga, Tuan.

Aku bahagia dengan ucapan terima kasih yang kau katakan.

Sesederhana itu aku dibahagiakanmu.
Ya, sesederhana itu.

Aku sampai disuatu titik aku tak bisa lagi menantimu.
Bukan aku tak sanggup lagi mencintaimu.
Aku hanya ingin menolong diriku sendiri.

 Mungkin jika ada cinta aku akan tertolong.
Tapi sayangnya selama ini tak pernah ada cinta diantara penantianku.

Cinta itu dua sisi.
Keduanya saling menguatkan dan memberi.
Jika hanya ada satu, yang satunya lagi tertatih untuk berjalan sendiri.
Dan aku tak ingin terus seperti itu.

Setelah pergolakan panjang untuk mengambil keputusan, akhirnya aku berani memutuskan.
Aku memutuskan untuk meledakkan bom atom yang selama ini menunggu untuk diledakkan.

Tuan.. Aku mencintaimu
Itu yang sebenarnya ingin aku katakan dengan mulutku sendiri.
Sebagai ucapan terima kasih karena kamu semua tulisan ini tertulis dan dibaca.

Tapi apa daya, aku menuliskannya dengan cara yang lain.
Cara yang setidaknya bisa kau terima.

Semua rasa yang terpendam selama hampir 8 tahun ku rampungkan dalam hari itu.

Tuan, terima kasih atas setiap jawabanmu.
Aku lega.

Ada hati yang harus kau jaga.
Aku mengerti.
Jaga perempuanmu itu, Tuan.

Kelak jika aku tau kau telah memilih, aku turut berbahagia dan mendoakanmu.

Aku disini, hari ini berjanji untuk membahagiakan diriku sendiri.
Bahagia dengan tidak lagi menunggumu.
Melainkan bahagia dengan menggantikanmu dengan Tuan yang lebih baik.

3 comments: