Thursday, 29 January 2015

Suatu Hari, Nanti.





Dengan langkah kaki yang bergetar selangkah demi selangkah aku menghampirinya. Sampai sesaat dirinya berada hanya dalam beberapa jengkal dari hadapanku. Mataku ku biarkan tak bertemu dengan matanya, rasanya untuk mengatur detak jantungku saja sulit.

Kemudian aku berbicara dengan posisi kepala yang masih terus menunduk "Maaf mengganggumu lagi, ada yang ingin aku sampaikan".
Tangannya yang dingin kemudian menyentuh daguku "Bisakah kau menatapku ketika sedang berbicara?, aku ada dihadapanmu".

Aku menepis dan masih saja terus mengalihkan pandanganku darinya.

"Akuu..." lidahku serasa kelu untuk mengucapkan kata.
"Ada apa?" tanyanya lembut.

Aku tak pernah berpikir bahwa hari ini akan benar-benar dikabulkan. Menunggu siap memang takkan pernah mudah. Kini aku melihat matamu tepat dihadapanku, aku melihat dengan jelas segala bentuk diwajahmu. Kau pasti akan tertawa bahwa aku mencintai seseorang yang belum pernah aku lihat dengan dekat kedua bola matanya. Aku selalu menempatkan dirinya spesial dihidupku, bahkan ketika ia menganggap wanita lain yang spesial dihatinya. Aku hanya mengetahui bahwa cinta yang aku miliki ini hanya ingin selalu melihatmu bahagia.

"Aku meminta maaf jika hanya wanita yang seperti ini yang berani untuk menyimpan perasaan terbesarnya untukmu"

Wajahnya datar tak berekspresi namun matanya tetap menatapku.

"Terima kasih kamu telah mengabulkan pertemuan hari ini. Jikalau kau memang harus membahagiakan orang lain, setidaknya aku sudah pernah dibahagiakanmu hari ini" kataku lagi.




Suatu hari, nanti.


1 comment:

  1. ceritanya mengharu biru.. seperti pelangi tapi membelenggu, tapi aku yakin kau tak ragu saat itu

    ReplyDelete